BUKAN KALENG-KALENG

By Berbagi Ilmu - November 24, 2018


Sejak  pagi tadi Jembut telah diributkan dengan persoalan unboksing Aiphone X yang dilakukan oleh Lastri istrinya. Istri Jembut adalah wanita yang peka terhadap pembaharuan gadget. Wanita asli Boyolali tersebut ikut aktif dalam dunia peryutuban sebagai reviwer.

“Mas piye video unboksing Aiphone X apik opo oraa”. Tanya Lastri pada Jembut yang sedang berselonjoran menikmati hari liburnya. “Wah apik tenan to De, lebih apik kalo saman buatkan kopi untukku” jawab Jembut.

“He’alah, secangkir kopi ae to, tapi besok belikan aku Samseng S9 yo?” kata Lastri sembari memegang kameranya. “Aku bikin sendiri ae lah” kata Jembut seraya berjalan menuju dapur.
Jembut adalah pria asli Pamekasan Madura, ia rela merantau jauh ke Boyolali demi cintanya pada Lastri. Mereka bertemu saat sama-sama melakukan wisata Bahari empat tahun yang lalu.

“De, aku mau jalan sebentar, ke tempat Suntuk, baju Batikku nengdi yo?” Tanya Jembut sambil berjalan menuju kamar. “Neng lemari donk, masa nyari baju di dapur!” Sahut Lastri setengah berteriak. “Maaf ya Guys, laki-laki memang begitu! Oke kita lanjut onboksingnya guys.”

Jembut pun berangkat menuju ke tempat Suntuk meninggalkan Lastri yang masih berkutat di depan kamera. Ditemani Sillo Jembut berangkat ke tempat kerabatnya tersebut. Sillo merupakan nama mobil Avanja yang dimiliki oleh Jembut. Tak berselang lama Jembut tiba di tempat Suntuk.

Suara-suara burung, jangkring, kodok menyambut Jembut. Suntuk adalah teman Jembut yang berprofesi sebagai penjual binatang. Semua jenis binatang ada di rumah Suntuk, mulai dari anak komodo hingga anak nyamuk.

“Assalamualaikum!” sebagai tamu yang baik Jembut memberi salam untuk empunya rumah.
“Walaikum salam!” sebuah suara terdengar dari dalam rumah. Sesosok laki-laki dengan mengenakan pakaian partai berwarna jingga berlogo moncong kuda keluar membuka pintu.

“Ladalah, koe Mbut” kata Suntuk seraya menjulurkan tangan untuk bersamalan. “Iyalah, saman kira aku Suparman? Jawab Jembut dengan kelakar sembari menerima juluran tangan Suntuk.

“Aku bosen di rumah, mau nyari piaran” Jembut mengemukakan maksud dan tujuannya.

“Iki barang baru” Suntuk menunjuk salah satu kotak yang berisi semacam hewan melata.

“Opo kue Ntuk?” tanya Jembut sambil menengok kotak plastik tersebut.

“Bayi komodo” jawab Suntuk.

“Edan! Koe Ntuk. Inikan barang yang dilindungi negara, koe bisa dipenjara jualan hewan macam ini”.

“Laa ora donk, wong pulau komodo aja mau dijual untuk investor, mau dijadikan tempat mewah” 
jawab Suntuk dengan tenang. “Kalau pulaunya aja dijual masa hewannya gak boleh dijual? Lagian ini hasil peternakan kok, aman lah pokokke” tambah Suntuk.

“Ora ah, aku mau nyari seng aman ae lah, yang mudah perawatannya, dan murah kalau iso sih gratis” jawab Jembut.

“Iku ae” kata Suntuk menunjuk baskom berwarna hitam berisi air.

“Opo isine? Tanya Jembut.

“Jentik nyamuk” jawab Suntuk.

“Kampret koe Ntuk, moh aku, bisa kena DBD nanti tetanggaku.”

“Lo katamu tadi mau yang murah, iku murah”

“Oraaa! yang lain ae” kata Jembut.

“Koe pilih sendiri lah” Kata Suntuk menjawab dengan malas.

Jembut pun berjalan mengelilingi peternakan milik kawannya itu. Setelah berjalan beberapa saat Jembut akhirnya memutuskan untuk membeli hewan tersebut.

“Ntuk, aku mau beli iki ae lah” kata Jembut sambil menunjuk baskom berisi air yang berisi hewan-hewan kecil yang sedang asyik berenang.

“Oh, koe mau beli cebong toh Mbut?” tanya Suntuk sambil mencari plastik untuk membungkus kawanan cebong itu.

“Iyo, murah iki, suarane juga apik” kata Jembut sembari menyodorkan uang pecahan lima ribuan.

“Ra usah, khusus untuk koe gratis” jawab Suntuk sambil menyendok anak-anak kodok dengan serok khusus.

“Serius Ntuk?? Wah koe memang konco seng baik hati hehe” kata Jembut.

“Makasih yo” kata Jembut dengan sekantong cebong ditangannya. “Aku gak bisa lama-lama Ntuk, mau ke tempat Tonjok lagi ini” kata Jembut.

“Wah koe mau ganti mobil Mbut” tanya Suntuk penuh selidik.

“Gakk sih sebenarnya, cuman mau lihat-lihat mobil aja, katanya ada mobil baru mereknya, opo jenenge” Jembut mencoba mengingat-ingat. “ESEMPE  jenenge Ntuk, lali aku” kata Jembut.

“Oh iyo, aku ra ngerti sama mobil Mbut, titip salam lah sama Tonjok.” Kata Suntuk.

“Iyo, sekali lagi makasih yo” Jembut kemudian meninggalkan temannya tersebut.

Jembut kemudian bersama Silo menuju ke tempat Tonjok. Tonjok merupakan teman masa kecil Jembut. Sejak kecil Tonjok bercita-cita menjadi pengusaha mobil. Sekarang impiannya sudah terwujud, mobilnya banyak, semua merek ada. Usaha showrumnya berkembang pesat.

“Njok, aku mau nyari mobil ESEMPE ene opo oraa? Tanya Jembut membuka percakapan pada Tonjok.

“Iku mobil dari negara mana Mbut? Kok aku baru dengar?” Tanya Tonjok dengan raut wajah bingung.

“Aku selama ini baru dengar ada mobil jenenge ESEMPE Mbut!”

“Iyo, iku mobil baru Njok. Aku ene baca beritane di media onlen. DP 0 rupiah Njok, mobil’e apik tenan gambare” Jembut memberikan penjelasan mengenai mobil tersebut.

“Ladalah, emange enek yo mobil DP 0 rupiah. Iku lesingnya karo deler opo ora rugi Mbut?”

“Moh, makane aku tanya kamu seng akeh pengalaman di dunia permobilan.”

“Mbut aku iki sudah melanglangbuana hampir 20 tahun lo bisnis mobil, gak kepikiran loh untuk kasih DP 0 rupiah, kayanya koe salah berita, iku hoaks Mbut.”

“Ah masa sih Njok, kok koyo meyakini gitu ya berita ne, sontoloyo
 tenan iku, Njok.”

“Laa koe! percoyo segala berita onlen. Koe musti lebih kritis lagi Mbut, biar gak dibohongi pake berita begituan”.

“Ladalah, aku iki pendidikan Strata siji loh masih iso juga lah ketipu. Sontoloyo tenan iki.”

“Lah Mbut-Mbut, ya wes iki ae lah murah iki barange apik tenan:” Tonjok menawarkan sebuah mobil Fortuner berkelir hitam mengkilat untuk Jembut.

“Asal DP 0 rupiah, angkut langsung haha”

“Haha, sontoloyo”

Jembut dan Tonjok tertawa bersama sambil menatap Sillo.

“Mobilmu masih apik Mbu, di’dol opo ora? Tanya Tonjok.

“Ora, iku mobil kesayangan istri ku Njok. Bisa rabi meneh istriku kalau iku di’dol” haha tawa Jembut.

“Hhaaha, istrimu masih orang Boyolali itu Mbut? Tanya Tonjok menggoda Jembut.

“La masih donk, aku iku setia Njok!”

“Ya wes aku muleh lah, wes malam iki” kata Jembut sembari  menyalami Tonjok.

“Ya wes, mampir lagi lah, kalau bisa bawa pelanggan Mbut! Haha”

“Dasar otak dagang.”

“Eeh hati-hati Mbut di jalan, kata koncoku, neng pohon gede iku ene genderuwo neh.”

“Ya elahh, aku iku Strata siji Njok ra percoyo karo begituan. Apalagi karo genderuwo.”

“Hus, takandani ra percoyo koe iku Mbut-Mbut.”

“Oraaa, kamu kira aku kaleng-kalengan” teriak Jembut dari dalam mobil.

Jembut pun melaju dengan kecepatan sedang. Tak berselang lama tiba-tiba Sillo berhenti mendadak, tepat di bawah pohon besar yang tadi sempat di singgung oleh Tonjok.

“La dalah, koe Sillo pakai acara merajuk, jadi mobil aja sering merajuk, gimana jadi orang koe!”

Jembut lalu keluar dari mobil dan memeriksa kap mobilnya. Setelah mengecek busi, air radiator, dan 
aki, Jembut berkesimpulan bahwa mobilnya baik-baik saja. Ia kemudian terpikir dengan perkataan Tonjok tentang genderuwo tadi. Ia kemudian menatap pohon besar itu.

“Eh dedemit, genderowo, jangan macam-macam yo, kulo libas pakai jurus bangau makan tempe, minggat koe!” gumam Jembut dalam hati.

Jembut lalu masuk mobil dan menyalakan Sillo kembali, ajaib mobilnya hidup. Dan setelah deklarasi perang tersebut Jembut melaju meninggalkan pohon besar yang konon dihuni oleh genderuwo itu. 

Ia melaju dengan selow-selow, sungguh selow, sangat selow, tetap selow, santai-santai.

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar