Pertanyaan Kapan-Kapan-Kapan

By Berbagi Ilmu - Oktober 13, 2018


Lulus kuliah, bekerja, menikah, memiliki anak, hidup mapan dengan orang yang kita cintai dan yang mencintai kita.

Saya pikir tidak ada satu manusia normal di belahan dunia manapun yang tidak menginginkan alur kehidupan tersebut. Pertanyaannya adalah apakah semua orang memiliki kesempatan itu?

Hari ini (13 Okt 2018) saya menghadiri dua acara sekaligus. Pertama, wisuda. Kedua, resepsi perkawinan.

Sebenarnya saya tidak ingin menghadirinya. Saya tahu akan ada perasaan bahagia bercampur sedih dikedua momen tersebut.

Teman-teman seangkatan saya sebagian lulus dan wisuda tepat waktu. Sedangkan saya entah kapan akan lulus dan wisuda. Jika saya menghitung-hitungnya maka normalnya akan bertepatan ditahun 2019.

Setahun lagi. Cukup lama bagi sebagian orang. Cukup sebentar bagi saya. Dengan catatan kita menikmati setiap hari dan setiap momennya.

Saya tidak begitu memikirkan jika ada teman yang bertanya “Kapan lulus? Di mana kerja? Kapan nikah” ah masa bodoh dengan pertanyaan formalitas dan basa-basi tersebut.

Kenapa saya katakan basa-basi. Karena saya tahu mana yang serius bertanya. Dan mana yang bertanya hanya untuk mencari bahan pembicaraan.

Namun, jika pertanyaan tersebut ditanya oleh orang dekat tentu beda rasanya. Orang dekat di sini maksudnya bukan pasangan atau pacar. Melainkan orang tua.

Bagi mereka yang pernah mengalami masa-masa seperti saya tentu memahaminya. Masa-masa di mana ketika orang tua membandingkan kita dengan kehidupan teman-teman kita atau membandingkannya dengan orang lain.

“Coba lihat, temanmu sekarang sudah menikah dan punya anak, hidupnya mapan. Kapan kamu seperti itu?” ini adalah perbandingan yang sebenarnya sah-sah saja di lakukan oleh orang-orang. Bukan hanya orang tua.

Tapi apakah mereka tahu, bahwa setiap kita memiliki kisahnya masing-masing. Kisah adik dan kakak saja bisa berbeda jauh, apalagi dengan orang lain.

Itulah yang terjadi jika kita menggunakan mindset tertutup seperti itu. Dan itulah yang terjadi dikehidupan saya. Ketika orang tua bertanya ini-itu-ini-itu dan mulai menyalahkan kita.

Siapa sih yang tidak ingin kehidupan seperti yang saya sebutkan di paragraf awal itu? saya tahu ini hanyalah masalah mindset yang sejak dari jaman purba sudah terjadi. Entah apakah pertanyaannya sama atau tidak. Tapi saya yakin hakikatnya tidak jauh berbeda. “Kapan-kapan-kapan”

Acara kedua adalah acara perkawinan teman saya. Saya berteman sejak SMP hingga sekarang. Namanya Azhar ayah dan ibunya adalah guru. Ayahnya sempat mengajar saya juga di SMP. Sekarang sudah menjadi kepala sekolah di SMP lain.

Saya juga tidak begitu ambil pusing dengan pertanyaan seperti kapan nyusul? Kapan nikah? Bla-bla-bla-bla. Saya sadar menikah bukanlah hal cepat-cepatan. Ada tanggung jawab yang begitu besar di dalamnya.

Sehidup semati. Satu rumah. Hidup dengan orang tuanya atau orang tua kita, atau memiliki rumah sendiri. Atau menyewa juga untuk kehidupan diawal-awal. Demikianlah hidup seperti itu.

Kembali ke pertanyaan kapan-kapan-kapan tadi. Saya yakin semuanya akan datang pada waktu yang memang tepat. Bukan tepat dalam hitungan kita. Tapi tepat dalam hitungan takdir-Nya.

Dan semua orang berhak mendapatkannya. Selama ia mau berusaha dan berproses. Sah-sah saja. Namun, bagaimana dengan mereka yang ingin cepat dan tidak terlalu peduli dengan proses?

Bagi saya yang lebih menghargai proses tentu ini tidak masalah, tapi bagi mereka yang tidak peduli dengan proses ini tentu masalah besar.

Dan bagaimana jika yang bersebrangan arah pemikiran dengan kita adalah orang tua kita sendiri?

Memang setiap hal itu diciptakan berpasang-pasangan. Ada like adapula dislike. Ada menjalani ada mengomentari. Ada malam adapula siang. Ada pagi adapula sore. Ada yang menghargai proses ada yang menghargai hasil. That’s life. 

Yang menjadi pembedanya adalah bagaimana kita menyikapinya.

Apakah kita terus-terusan terpengaruh dengan jalan pikiran mereka. 

Atau kita berusaha untuk membuat mereka memahami jalan pikiran kita. 

Atau memahami dan menghargai jalan pikiran mereka, sambil mengambil dan menjadikannya pelajaran. 

Atau sama-sama memahami dan menghargai jalan pikirannya dan jalan pikiran orang lain.

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar