SENYUM LITERASI, SENYUM DUNIA

By Berbagi Ilmu - Agustus 01, 2018


Apa jadinya dunia tanpa bacaan? Apa jadinya dunia tanpa tulisan? Bisakah peradaban akan terbentuk? Mungkinkah pembangunan dan perkembangan suatu bangsa akan berlangsung?

Sejarah telah mencatat lebih dari 1400 tahun telah berlalu. Sebuah perintah dari Tuhan di amanahkan untuk manusia melalui seorang Nabi dan diperantarai oleh Malaikat Jibril.

“Bacalah” demikianlah perintah itu pertama kali datang. Perintah itu terus diulang sampai tiga kali. Sebuah perintah yang syarat akan makna. Sebuah perintah sekaligus anjuran untuk menggunakan segala nalar dan akal seorang manusia.

Mungkin jika kita berada pada posisi sang Nabi. Kita pun akan bertanya “Apa yang dibaca?”. “Aku tidak bisa membaca?” atau mungkin kita akan berkata “Dengan apa aku membaca?”

Kegiatan membaca dan menulis merupakan dua kegiatan yang tak terpisahkan. Tidak ada bacaan tanpa ada tulisan. Begitu pula sebaliknya tidak ada tulisan tanpa ada bacaan.

Dalam era modern, di mana dunia telah banyak mengalami perubahan. UNESCO secara resmi menetapkan tanggal 8 September sebagai hari literasi Dunia. Penetapan tersebut di prakarsai pada saat konferensi UNESCO tanggal 17 November 1965 bertempat di negara Iran.

Tujuannya tidak lain dan tidak bukan adalah untuk mengajak, mempromosikan, dan menyebarluaskan kegemaran dan kecintaan membaca bagi individu, keluarga, komunitas, masyarakat, negara dan pada akhirnya dunia.

Jika melihat penelitian yang telah dilakukan tentang minat baca suatu negara. Kita sungguh prihatin dengan hasil penelitian-penelitian tersebut. Hasilnya negara kita selalu berada pada urutan bawah. Sebuah fakta yang tak dapat dipungkiri.

Berbagai penelitian dan survei yang telah dilakukan. Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan oleh Jhon W. Miler dari Presiden Central Connecticut State University New Britain.

Penelitian tersebut menyebutkan bahwa negara dengan tingkat literasi tertinggi adalah negara Finlandia. Sebuah negara yang terletak di Eropa Utara. Dengan Helsinki sebagai ibu kotanya. Sebuah negara dengan luas hampir 338.424 KM 2. Hampir dua kali ukuran luas wilayah Kalimantan tengah (157.983 KM 2).

Timbul pertanyaan dalam benak kita. Bagaimana negara tersebut bisa mencapainya? Sebuah negara dengan tingkat literasi tertinggi.

Dari penelitian Jhon W. Miler tersebut, dapat diketahui bahwa negara tersebut sangat memperhatikan yang namanya literasi.

Hal ini dapat dilihat dari begitu banyaknya perpustakaan yang tersebar hampir disetiap tempat umum. Selain perpustakaan, salah satu kegemaran masyarakat Finlandia adalah mendongeng.

Sebuah kegiatan bercerita baik yang dilakukan pada saat tersadar atau pada saat akan tidur. Bahkan beberapa saat lalu kita menyaksikan Presiden Jokowi mendongeng untuk anak-anak dalam acara hari buku Nasional.

Selain hal itu juga. Pemerintah Finlandia memberikan apresiasi yang tinggi bagi masyarakatnya dalam rangka meningkatkan kegemaran membaca. Bahkan pemerintah setempat memiliki program yang bernama Maternity Package.

Maternity Package merupakan hadiah yang diberikan bagi masyarakatnya yang baru melahirkan atau memiliki keturunan.

Hadiah tersebut meliputi keperluan bayi berupa pakaian, mainan, dan tak ketinggalan buku parenting untuk bahan bacaan untuk ayah dan ibu si bayi.

“Tapi itu kan Finlandia, negaranya tidak terlalu besar, jumlah penduduknya juga tidak terlalu banyak, dan yang paling penting semuanya di fasilitasi oleh pemerintah dan negara.”

“Kita kan Indonesia, wilayah kita begitu luas, sarana dan prasarana terbatas, serta berbagai persoalan korupsi yang tak kunjung usai.”

Semua asumsi-asumsi tersebut benar adanya. Namun apakah kita harus menunggu semuanya tersedia dan di fasilitasi oleh negara dan pemerintah? Baru literasi terlaksana?

Ada berbagai cara untuk menjadi generasi literasi. Ditambah lagi dengan era keterbukaan pada masa sekarang yang membuat semuanya mudah tersebar.

Membudayakan literasi dan budaya baca adalah kewajiban masing-masing individu. Hal sederhana yang dapat dilakukan adalah menjadikan buku sebagai hadiah. Hadiah perkawinan, ulang tahun, serta momen-momen penting lainnya.

Selain memberikan hadiah berupa kue, tidak ada salahnya dengan menambah buku untuk pelengkap hadiah tersebut. Jika kita dapat melakukannya dengan masif, teratur, dan terukur maka budaya baca kita akan tumbuh subur bagai tanaman dimusim semi. Dan hal ini menjadi angin segar bagi dunia literasi kita.

Selain itu hal yang jarang dilakukan oleh orang tua pada masa sekarang adalah mendongeng sebagaimana yang telah disebutkan diatas. Cobalah untuk mendongeng sekitar 5-10 menit setiap harinya. Entah itu kepada anak, istri, kerabat, cucu, atau sanak famili lainnya.

Dan yang tidak kalah pentingnya adalah menyediakan waktu sekitar 10-15 menit setiap harinya untuk membaca. Baik itu membaca buku, koran, berita online, maupun majalah.

Marilah kita jadikan momentum hari literasi dunia ini untuk menyebarluaskan semangat untuk terus dan tak pernah lelah untuk membaca. Dengan banyak membaca selain memperluas wawasan. Juga melindungi kita dari maraknya berita palsu yang berkeliaran di dunia maya maupun dunia nyata.
Semakin luas wawasan kita maka akan menjadikan senyum bagi literasi. Dan senyum literasi akan menjadikan senyum bagi dunia.

Sekali lagi selamat hari literasi dunia. Jadikan dunia lebih indah dengan banyak membaca dan menulis. Salam literasi.

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar