MARET 2018: BERTEMU DI LAIN WAKTU

By Berbagi Ilmu - Agustus 02, 2018


Sore itu rumah Ust Ahmad ramai dipenuhi oleh para pelajar (laki-laki) yang ingin menyaksikan hukuman rode. Hukuman rode merupakan hukuman berupa pukulan rotan yang dipukulkan di kaki atau tangan. Hukuman ini diberikan jika ada pelajar yang melanggar peraturan pondok.

Peraturan pondok melarang para pelajarnya keluar tanpa ijin (bolos), tidak ikut shalat berjamaah, tidak ikut pengajian kitab, membawa perangkat elektronik dan melanggar peraturan lainnya.

Sore itu menurut informan Ust Ahmad ada beberapa pelajar yang keluar pondok tanpa ijin. Kini mereka bukan hanya menerima hukuman rode tetapi juga harus menanggung resikonya lainnya yakni rambut yang harus di potong gundul.
--
Bulan terus berlalu, kini gue telah sampai di bulan Maret, bulan terakhir masa program KKN-PPL ini. Di bulan (ini) pula ujian kenaikan kelas dilaksanakan. Gue mendapat kewenangan untuk membuat soal ujian tersebut. Gue lantas membuat soal-soal ujian untuk mengukur kemampuan pelajar yang gue ajar yakni pada pelajaran bahasa Inggris dan bahasa Melayu.

Soal yang gue buat bisa terbilang tidak terlalu banyak. Kebanyakan soalnya berupa soal pilahan ganda dan sedikit essay. Sebelumnya gue juga telah memberikan kisi-kisi soal yang akan diujikan.

Terdapat dua ujian di pondok ini. Ujian pertama berupa ujian hapalan dan ujian kedua berupa ujian tertulis. Ujian hapalan ini terdiri dari hapalan surah Al-Qur’an, hadist, bahasa Arab dan pelajaran lainnya yang sifatnya layak untuk dihapal. Sedangkan ujian tertulis terdiri dari soal-soal hitungan dan pengetahuan lainnya.

Dibulan ini juga gue memutuskan untuk memotong habis rambut gue alias gundul. Gue menggundul rambut gue ini sebagai pertanda bahwa gue telah selesai melaksanakan apa yang gue janjikan di dalam hati gue sebelum ini. Gue juga menggundul rambut ini sebagai perumpamaan orang yang baru kembali dari Haji dan Umroh hehe.
--
Grup whatsapp ramai membicarakan tentang perihal kepulangan dan oleh-oleh yang akan dibawa. Kepulangan kami sendiri dijadwalkan pada tanggal 16 Maret 2018. Kami pun lantas mulai membuat agenda untuk membeli oleh-oleh dan souvenir lainnya.

Menurut kabar dari kawan-kawan sebelumnya tempat yang banyak menjual oleh-oleh terdapat di provinsi Songkhla tepatnya di Hatyai. Minggu pertama di bulan Maret kami sepakat pergi ke Hatyai.

Tidak semua peserta KKN-PPL pergi ke Hatyai, beberapa kawan lainnya memilih untuk minta dibelikan saja. Gue sendiri bersama Sapri pergi ke Hatyai dengan menggunakan kereta api. Rencananya kami akan menjadikan stasiun kereta api Hatyai ini sebagai meeting point, sebelum kami berbelanja oleh-oleh.

Sesampainya di Hatyai gue, Sapri dan teman-teman lainnya dijemput oleh Laily (IAIN Tulungagung). Setelah itu kami menuju sekolah Thayai Wittaya School untuk menginap sementara sebelum esok harinya membeli oleh-oleh.

Keesokan harinya gue bersama kawan-kawan dengan menggunakan Songthew pergi ke Naho serta ke Lee Garden. Kami membeli beberapa oleh-oleh seperti gantungan kunci, asbak rokok, hiasan dinding, tas, baju, dan souvenir lainnya.

Setelah dirasakan cukup berbelanja kami pun kembali ke sekolah masing-masing. Khusus gue dan Sapri kami tidak langsung kembali ke sekolah, kami memutuskan berkunjung ke tempat Farah (IAIN Kediri) di Saengtham Wittaya Foundation School yang berloksi di Chana Songkhla. Kami bermalam disana selama satu malam.
--
Beberapa hari menjelang kepergian gue dari pondok, Ust Ahmad beserta keluarga mengajak gue untuk makan buffet di sebuah tempat makan di Pattani. Buffet ini merupakan jenis tempat makan dimana kita cukup membayar beberapa uang setelah itu kita dapat menikmati makanan ini sepuasnya. Semua jenis penganan laut menjadi menu utamanya.
--
Malam hari sebelum hari kepergian, gue memberikan sepatah dua patah sebagai ungkapan terimakasih sekaligus ungkapan perpisahan. Kami lantas berpelukan dan mengucapkan kata-kata perpisahan. Sebenarnya bukan kata perpisahan yang ingin gue ucapkan tetapi, sampai bertemu lagi di lain waktu.

Sebagai ungkapan perpisahan, gue memberikan Mawar sebuah buku Novel yang gue bawa sebelumnya yakni Sirkus Pohon karya Andrea Hirata. Gue berharap ketika melihat dan membaca Novel itu Mawar akan lebih memahami lagi tentang Indonesia dan ingat gue hehe (modus terus).

Malam itu gue dibantu oleh Hambali dan Irfan packing untuk persiapan gue besok pulang. Beberapa pelajar laki-laki ada yang memberikan tanda mata, ada yang memberikan kaos, jam dinding, bahkan ada yang membuatkan kaligrafi untuk gue. Malam itu gue merasakan dua hal yang bersamaan yakni sedih dan senang.

Hari Jum’at (16 Maret 2018) gue diantar oleh keluarga Ust Ahmad dan para pelajar laki-laki menuju Park View hotel di Pattani. Park View hotel menjadi tempat yang begitu berkesan bagi gue. Di tempat itulah gue bersama kawan-kawan lainnya pertama kali bertemu, tempat pertama kali gue bertemu dengan pihak sekolah, dan tempat itu juga gue harus berpisah dengan kawan-kawan serta pelajar pondok Yalor.

Saat gue sampai di aula Park View acara penutupan telah berlangsung separo jalan. Gue hanya sempat menyaksikan bapak Konsulat menyampaikan pidatonya, selebihnya gue terlewat untuk menyaksikan.  Aula begitu ramai dipenuhi oleh para pelajar dan kepala sekolah. Turut hadir juga dosen-dosen dari tiap perguruan tinggi yang bertugas menjemput para mahasiswanya.

Setelah peluk, sapa dan tangis. Gue bersama kawan-kawan peserta KKN-PPL lantas pergi menuju bandara Malaysia menggunakan bus. Perjalanan tersebut kami tempuh lebih dari 12 jam lamanya. Selama perjalanan kami lebih banyak diam, seperti tak percaya dengan yang semua telah kami lalui selama hampir 5 bulan ini.

Sebelum sampai di bandara, kami diajak untuk berkunjung ke Putra Jaya serta Menara Kembar Petronas. Menara yang awalnya hanya gue lihat di internet kini dapat gue lihat secara langsung. Tanpa menunggu lama kami lalu berfoto bersama-sama untuk kesekian kalinya.

Setelah puas berfoto di menara kembar perjalan kami lanjutkan. Tak berselang lama kami kemudian sampai di bandara Internasional Malaysia. Sebelum memasuki gate masing-masing, ucapan selamat tinggal dan sampai bertemu kembali dilain waktu terucap lagi diantara kami sesama peserta KKN-PPL.

Teruntuk Melati gue hanya mengucapkan sebuah kata “pamit”. Melati yang lagi asyik ber-Swa foto hanya mengangguk pelan. 

Gue merasa seperti ada yang belum selesai diantara kami berdua, tapi gue gak mengetahui apa itu. Apakah sebuah perasaan sesaat, apakah sebuah rasa, atau yang lainnya, entahlah. Mungkin jawaban dari semua itu akan gue dapatkan (cepat atau lambat) ketika gue bertemu lagi dengan doi.

Setelah itu gue bersama rombongan (Universitas Muhammadiyah Palangkaraya) masuk ke bandara dan meninggalkan rombongan lainnya. Khusus untuk rombongan gue dengan rute penerbangan Malaysia-Jakarta-Palangkaraya, penerbangan Malasysia-Jakarta berlangsung pada malam hari itu juga, sedangkan penerbangan Jakarta-Palangkaraya dilakukan keesokan harinya.

Sesampainya di bandara Soekarno-Hatta kami kemudian di jemput oleh dosen Universitas Muhammadiyah Tanggerang. Kami kemudian diperkenankan untuk bermalam di rumah beliau di Tanggerang selama satu malam.

Sesampainya di Palangka Raya gue lantas menemui Bunga dengan membawa berbagai cerita tentang negara, kampung dan rumahnya.

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar