Jogja Tunggu Aku.

By Berbagi Ilmu - Agustus 29, 2018


Memasuki semester 9 saya sempat galau. Pilih lanjut kuliah atau merantau ke Jogja. Kuliah saya tinggal skripsi. Tinggal daftar proposal skripsi.

Rencana merantau ke Jogja ini bukan rencana yang muncul sehari dua. Sudah lama saya ingin pergi ke kampung halaman nenek saya dari garis ibu. Nenek saya atau ibu dari ibu saya merupakan penduduk asli jogja. Tepatnya di kabupaten Bantul.

Berdua dengan adiknya, nenek saya merantau ke Palangka Raya. Menurut cerita dari ibu saya nenek dan ke lima anaknya merantau setelah dijemput oleh adik nenek saya yang terlebih dahulu merantau tepatnya pada tahun 1972.

Adik nenek saya merupakan pegawai (pada saat itu) di Universitas Negeri Palangka Raya. Sementara nenek saya merupakan ibu rumah tangga yang pantang menyerah. Suaminya sudah lama meninggal. Di makamkan di Jogja.

Sesampainya di Palangka Raya, nenek saya lantas berjualan sayur keliling. Dari gang satu ke gang lainnya. Pernah suatu ketika langganan sayur nenek saya berhutang sayur dan setelah dihitung jumlah cukup banyak. Lantas untuk melunasi hutang tersebut. Ia kemudian memberikan sebidang tanah untuk nenek saya di jalan Cendana.

Bersama-sama. Nenek dan anak-anaknya kemudian mendirikan sebuah rumah. Cukup lama rumah tersebut berdiri. Hanya sedikit yang direnovasi. Karena ekonomi sulit. Dan kini di tanah tersebut berdiri pemancar telekomunikasi. Uang hasil penjualan tanah di bagi rata. Empat orang keluarga. Satu keluarga tidak ingin ambil bagian. Hidupnya cukup mapan dari ke empat saudara lainnya.
Tidak berapa lama setelah saya lahir (tahun 1995) nenek saya meninggal dan dimakamkan di Palangka Raya.

Alasan selanjutnya kenapa saya ingin merantau ke Jogja yakni buku. Saya sangat menyukai buku. Beberapa web dan blog yang saya baca menyebut bahwa Jogja merupakan surganya buku. Sebagai kota pelajar industri buku tumbuh subur di sana. Selain bukunya, Jogja juga memiliki budaya yang khas dan nampak teduh, ditambah dengan kontur alamnya yang memukau. Mungkin ini jualah alasan kenapa Kla Project membuat lagu Yogyakarta.

Alasan berikutnya yakni idealisme saya yang bertabrakan dengan realitas. Kawan-kawan yang menikah, beli rumah, mapan dan sebagainya menampar idealisme saya. Saya mempunyai idealisme untuk tidak bekerja sebagai orang kantoran. Saya ingin bebas menentukan setiap keputusan yang saya ambil. Menjadi seorang penulis. Tapi sekali lagi realitas berkata lain. Untuk itulah saya ingin pergi merantau dan mencoba peruntungan di Jogja.

Kembali ke cerita kegalauan saya tadi. Saya kemudian berkonsultasi dengan kedua orang tua saya. Ayah saya kemudian memberikan usulan agar saya menyelesaikan kuliah terlebih dahulu. “Setelah lulus kuliah terserah hendak ke mana” demikian katanya memberi usulan.

Saya kemudian, menyetujui dan melanjutkan kuliah. Keinginan merantau saya tunda terlebih dahulu. Sembari menabung untuk rantau nanti. Jogja tunggu aku.

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar