JANGAN MENULIS SEKALIGUS MENGEDIT

By Berbagi Ilmu - Agustus 16, 2018



Kau sedang ke mana sehingga kertasmu kosong melompong? 
Freed Allen (1894-1956) 
Komedian dan Satiris AS

Kenapa Anda sering menghapus kalimat-kalimat yang sudah Anda tulis? Kenapa Anda sering berhenti dan bengong lama sekali di depan mesin tulis? Saya tahu jawabannya: Anda ingin menghasilkan tulisan yang sangat bagus saat itu juga. Anda menulis sambil mengedit, Anda menuangkan isi pikiran dan sekaligus menyensornya. Karena itulah Anda merangkak lambat sekali.
Ketika sedang menulis, sering kali kita melakukan dua pekerjaan secara bersamaan tanpa sadar. Dua pekerjaan itu ada: memproduksi tulisan (tindakan menuangkan isi pikiran) dan mengedit. 

Mengerjakan dua hal sekaligus ini membuat Anda menulis secara tersendat-sendat dan tidak maju-maju. Mungkin terlalu sering Anda menghapus lagi kalimat-kalimat yang sudah Anda tulis. Mungkin Anda menghabiskan waktu lama di depan mesin tulis dan hanya menghasilkan sedikit tulisan.

Sebuah tulisan yang baik, Anda tahu, selalu dihasilkan melalui dua tahap. Tahap pertama adalah menuangkan isi pikiran. Tahap kedua barulah editing. Pisahkan keduanya. Jangan menulis dan mengedit secara bersamaan.

Tumpahkan saja terlebih dahulu semua gagasan yang menyumpal di kepala Anda. Jangan pedulikan apakah susuanan kalimatnya bagus atau buruk. Kita tidak bicara tentang keindahan dalam proses memproduksi gagasan ini. Di tahap ini, yang lebih penting bagi Anda adalah menumpahkan semua yang ingin Anda sampaikan. Anggap saja Anda akan memasak sesuatu dan sekarang sedang berbelanja. Atau jika Anda membayangkan diri Anda seorang tukang bangunan, anggap Anda sedang mengumpulkan pasir, batu-batuan dan semen untuk membangun gedung atau jembatan.

Pasir, batu, dan semen tadi tidak akan pernah kita nilai keindahannya. Yang dinilai keindahannya adalah bangunan yang tercipta dari bahan-bahan tersebut. Editing adalah proses yang bisa dipersamakan dengan tahap kita menyusun batu bata, pasir dan semen menjadi sebuah bangunan.
Jadi, jika semua yang menggangu tempurung kepala Anda sudah Anda tumpahkan, barulah Anda bisa melakukan editing. Sebab bahannya sudah tersedia di depan mata Anda. Ubah susunannya kalau perlu. Buang mana yang menurut Anda tidak tepat. Pikirkan pilihan kata yang menurut Anda paling kuat.

Misalnya, Anda sudah menulis: Anak itu terus-terusan makan permen karet. Dalam proses editing, Anda merasa kalimat ini terlalu biasa, lalu Anda bisa saja mengubahnya dengan: Anak itu tak pernah berhenti mengunyah permen karet. Kata makan yang menurut Anda kurang kuat dalam proses editing bisa di ganti dengan mengunyah, kata terus-terusan bisa diganti tak pernah berhenti. Itu contoh paling sederhana tentang editing. Lebih lanjut Anda bisa membaca perihal editing ini di pembahasan berikutnya.

Jadi, tumpahkan saja dulu isi kepala Anda. Sesudahnya baru Anda menyusun tumpahan itu menjadi sesuatu yang paling indah menurut Anda. Proses seperti ini dilakukan oleh semua penulis yang baik. Mungkin hanya penulis yang tidak sabaran yang selalu ingin menulis sekali jadi. Ernest Hemingway bahkan mengakui, dalam satu wawancaranya, bahwa ia menulis bagian akhir dari novel pertempuran penghabisan sebanyak 39 kali. Ketika sang pewawancara menanyakan apakah ada problem teknis di sana, Hemingway menjawab, “Menemukan kata-kata yang tepat.”

Di kutip dari buku Creative Writing karya A.S. Laksana Halaman 37-38

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar