Ibu saya belum ACC

By Berbagi Ilmu - Agustus 28, 2018


Sungai selalu dapat membangkitkan memori masa kecil saya. Deretan keramba ikan, lanting, klotok yang hilir mudik, hingga warna air yang keruh.

Akhir tahun 2000 dan awal tahun 2001 terjadi kerusuhan antar suku. Dayak dan Madura. Bertepatan dengan itu pula ayah saya memutuskan untuk pindah dari kota Palangka Raya ke desa Bereng Bengkel.

Di sana kemudian ayah saya merintis usaha ternak ikan. Kami kemudian tinggal di sebuah rumah apung yang tidak begitu besar.

Sebagian aktivitas kami lakukan di sungai. Mandi, cuci baju, hingga urusan buang air. Besar dan kecil. Rumah apung di masa itu tidak terlalu banyak hanya dalam hitungan jari.

Usaha ternak ikan sukses, pembelinya adalah masyarakat sekitar. Namun, sukses tersebut tidak berlangsung lama. Air yang keruh menjadi sebab musababnya. Kami pun gulung tikar. Rumah apung dijual. Kami kemudian pindah ke darat ikut di tempat nenek.

Ayah saya kemudian berternak lagi. Ternak burung. Burung puyuh. Usaha ini terbilang berhasil. Telurnya di jual pada warga desa dan sebagian di jual di kota. Tetapi lagi-lagi keberhasilan tersebut tidak berlangsung lama. Jarak antara desa dan kota terlalu jauh. Hampir 30 km. Keuntungan penjualan telur harus dibagi dengan biaya transportasi. Usaha tersebut kembali gulung tikar. Gulung tikar kedua.

Tahun 2005 keputusan diambil. Kami pindah lagi ke kota Palangka Raya. Kehidupan di kota jauh lebih menjanjikan. Kini sudah 18 tahun lamanya pasca perpindahan tersebut. Dan ayah saya masih memiliki keinginan untuk memiliki keramba ikan. Bukan di desa, tapi di sini. Tepian sungai kahayan ini. Hanya saja ibu saya yang belum ACC. Masih trauma dengan masa lalu.  


  • Share:

You Might Also Like

0 komentar