CIKAL BAKAL, BUKU DAN TULISAN

By Berbagi Ilmu - Agustus 03, 2018


Entah dari mana awalnya gue jadi suka dan cinta terhadap buku. Seingat gue SD, SMP, SMK gue paling baca buku pelajaran. Itu pun belum setengah jam sudah ngantuk. Yang gue ingat buku novel pertama yang gue baca adalah buku Sang Pemimpi karya Andrea Hirata. Buku itu gue baca pada saat kelas 3 SMP. Keren gak bacaan gue haahaha
Setelah itu gue jarang bahkan hampir gak pernah lagi baca buku.
Waktu SMK pun gue juga jarang baca buku. Paling banter baca komik itu pun di warnet. Baca secara online. Gak ada ‘rasa’ untuk baca buku. Pada waktu kuliah pun hampir-hampir buku yang gue pegang adalah buku untuk membuat makalah. Setelah makalah selesai. Buku pun selesai.
Banyaknya tugas kuliah membuat gue merasa jenuh. Gue menjadi bosan dengan tugas-tugas yang diberikan oleh dosen. Kok bosen dan dosen terdengar mirip ya??? Mohon maaf pa Dosen hehe.
Akhirnya gue memutuskan untuk pergi ke perpustakaan Universitas. Niatnya selain baca buku juga mau lihat-lihat cewe, sekalian jalannya hahha. Sussttt ini rahasia! Jangan disebarluaskan, wink-wink-wink, kedipan mata.
Sampailah gue di rak khusus novel. Sebenarnya gue (awal-awal) rada malas membaca novel. Menurut gue novel itu gak jauh bedanya dengan sinetron, kalau gak cerita cinta, cerita putus cinta, patah hati, dan soal remaja. Sampai akhirnya gue ngeliat ada judul novel yang cukup familiar banget buat gue. Yakni Siti Nurbaya.
Akhirnya gue pun memutuskan untuk meminjam buku Siti Nurbaya tersebut. Gue baca sedikit demi sedikit. Akhirnya jadi bukit. Gak!! Becanda-becanda. Akhirnya buku Siti Nurbaya gue baca sampai tamat. Nah mulai dari sejak itu gue jadi suka membaca buku khususnya novel.
Gue mulai rajin ke perpus untuk meminjam buku. Dan gue mulai suka sama penjaga perpusnya. Ok fokus. Maksud gue, gue jadi suka membaca buku.
Seingat gue buku yang pertama gue beli adalah buku novel karya Andrea Hirata berjudul Edensor. Lanjutan dari Sang Pemimpi yang gue baca waktu SMP. Mulai ada keinginan di hati gue untuk punya perpustakaan sendiri. Gue mulai menabung untuk membeli buku.
Gue pun mulai membaca tips bagaimana cara mendapatkan buku gratis. Akhirnya gue nemu salah satu website luar negeri dari Arab Saudi yang memang mempunyai program donasi buku. Cukup daftar e-mail dan isi alamat rumah, sebulan kemudian bukupun sampai di rumah gue. Buku-buku tersebut berbahasa inggris.
Gue kemudian rajin membaca tips bagaimana bikin perpus sendiri. Ternyata tipsnya mudah. Beli aja buku banyak-banyak susun di lemari, dan dengan sekejap sudah jadi perpustakaan sendiri. Sungguh tips yang mujarab. Kalau itu tanpa lo kasih tahu pun nenek nyebrang juga tahu. Huuuuuh paijo-paijo.
Akhirnya gue memutuskan untuk membeli buku setiap bulan minimal satu atau dua buah. Dalam setahun menurut hitungan gue sudah ada 12 sampai 24 buku. Bayangkan bagaimana kalau sampai 10 tahun. Ada 240 buku.
Dan kalau gak punya duit gue akan membuka play-book dan download contoh gratis. Pas lagi asyik-asyik baca eh halaman gratisnya sudah habis. Kemudian muncul perintah untuk membeli agar dapat membaca secara full. Emang nasib gratissan, selalu begitu.
Selain ingin punya perpustakaan sendiri. Gue juga ingin punya perpustakaan digital yang bisa menyimpan artikel-artikel atau tulisan-tulisan yang gue kutip dari buku, majalah atau sumber lainnya. Gue memutuskan untuk membuat sebuah blog. Gue mendaptarkan e-mail di blogspot.com, setelah itu gue pun menulis artikel serta tulisan yang gue kutip kemudian gue posting di blog gue.
Setelah beberapa lama berlangsung gue mengetahui bahwa blog bukan hanya untuk menyimpan tulisan-tulisan saja, namun juga dapat di monetise. Artinya dengan sebuah blog gue bisa mendapatkan uang. Uang tersebut diperoleh dari iklan atau yang dalam dunia para blogger dikenal dengan adsence. Perlahan gue mulai meninggalkan tujuan awal gue membuat perpustakaan digital. Gue lebih tertarik mempelajari bagaimana caranya mendapatkan uang dari blog.
Dari informasi yang gue dapat domain berbasis web seperti lebih menghasilkan lebih banyak uang dibanding yang berbasis blogspot. Gue pun memutuskan membeli website seharga 400 ribu. Gue beli lewat teman gue yang jurusan teknik informatika. Akhirnya dengan empat kali cicilan website gue dapatkan.
Sebenarnya website ini berasal dari blogspot.com. Namun id web nya menggunakan nama domain yang lebih singkat. Entahlah apa namanya dalam dunia website. Yang jelas alamat webnya tanpa iming-iming blogspot.com.
Setelah website ada. Bukannya seneng, gue tambah pening. Pening mikir isi website. Gue coba baca-baca di internet, cara membangun website yang memiliki banyak pengunjung.
Mulai dari isi website tentang berita, website tipe how-to, tutorial, berita viral dan jenis website lainnya gue pelajari. Setelah membaca yang ada gue tambah galau, untuk menentukan jenis website gue tersebut. Akhirnya tanpa menunggu lama gue isi website dengan cara copy paste. Gue isi dengan tema yang populer. Gue isi hampir setiap hari. Lama-lama intensitas gue bermain web/blogspot mulai berkurang. Sebulan paling cuman sekali postingan.
Gue cek grafik pengunjung website gue, grafiknya datar. Gak pernah naik yang ada grafiknya malah menurun, itu juga palingan Cuma gue pengunjungnya.
Gue pun mencari tahu cara mesin pencarian google bekerja. Gue pergi ke kantor google. Gue temuin deh tu Sergey Bryan dan orang-orang google, gue pergi nemuin Bill Gates. Sampai sini semuanya dalam khayalan gue. Entah mungkin suatu saat nanti gue bisa nemuin mereka secara langsung hehe, kok jadi ajang curhat??. Lanjutt, fokus, fokus Gue pelajari alogaritmanya. Dan ternyata google punya sistem dimana ia bisa tahu mana website yang kredibel, dan mana website yang abal-abal yang isinya cuman copy paste dari website orang lain.
Google akan menampilkan rujukan utama yang dapat dipercaya pada halaman pertama di mesin pencarian, dan untuk yang plagiat akan di tempatkan di halaman, entah halaman keberapa, mungkin paling akhir, karena dianggap kurang kredibel.
Mulai dari situ gue memutuskan untuk berhenti dan mengundurkan diri dari dunia para blogger. Bukan karena apa, tapi gue lupa pasword dan email web berbasis blogspot milik gue hehe.
Setelah gagalnya gue di dunia para blogger. Gue tetap fokus pada kebiasaan membaca buku. Dari buku itu pula terbersit keinginan untuk membuat tulisan sendiri. Gue ingin tulisan gue terbit di koran.
Gue punya teman seorang dosen. Cukup muda tak beda jauh umurnya dengan gue. Sebut saja namanya Joko Wibowo. Gak bercanda hehe. Joko aja. Nah si Joko ini sering kali tulisannya terbit di koran. Berbagai artikel nya sering dimuat di kolom opini koran di kota gue. Darinya lah gue belajar bagaimana tulisan kita bisa dimuat di koran. Kelihatannya keren juga tulisan kita bisa dimuat dikoran. 
Lalu gue pun membuat sebuah tulisan dan mengirimkannya melalui e-mail ke koran tersebut. Dan alhamdulillah artikel gue tersebut dimuat. Artikel pertama gue tersebut berjudul Depresi. Artikel ini dimuat di koran lokal terbesar di kota gue. Karya gue tersebut berisi tentang bagaimana cara-cara mengatasi depresi. Salah satu cara yang paling mudah mengatasinya adalah dengan berbicara. Gue ingat begitu banyak orang-orang yang stress karena tidak ada tempat untuk berbagi dan berbicara.
Berbagai reaksi bermunculan ketika artikel gue terbit.
‘Maaf ya, kalau lo mau bunuh diri dan butuh teman bicara hubungi gue’
‘Jadi lu gak punya teman bicara, sini gue temanin’
‘Yang sabar ya, itu cobaan’
‘Ingat masa depan lo masih cerah’
‘Lo gak perlu bunuh diri karena hanya depresi’
‘Butuh ambulance’
Itulah teman-teman gue, mereka mengira gue yang depresi, padahal kan? Gue merasa baru gejala-gejala aja sih.
Entah serius atau bercanda, teman-teman gue terbukti masih perhatian sama gue. Makasih ya kawan-kawan, kalian memang terbaik. Gue tahu kok kalau kalian bercanda, tapi kok gue merasa sebaliknya, mungkin gue sedang berhalusinasi.
Semenjak artikel pertama gue terbit. Gue mencoba mengirimkan beberapa artikel lagi ke koran tersebut. Namun setelah gue periksa setiap hari di koran, gak ada juga artikel gue yang terbit. Gue kirim lagi dan lagi, namun hasilnya tetap. Artikel gue gak pernah terbit, sampai detik kalian baca tulisan ini. Gue akhirnya memutuskan berhenti mengirimkan artikel. Mungkin gue sedang depresi sekarang.
Mulai saat itu gue terus belajar untuk menulis. Gue belajar dari Youtube, Forum para penulis di Facebook, tutorial belajar menulis di website. Gue mulai belajar menulis puisi, namun setelah satu kalimat, kok rasanya kalimat kedua gak nyambung, atau jangan-jangan gue berbakat menulis puisi abstrak. Gue belajar menulis cerpen, sampai pertengahan gue gak tahu lagi kelanjutannya. Gue belajar menulis novel, tapi gak tahu apa yang ditulis.
Parah giiilaaa.
Berbagai jenis artikel gue pelajari. Mulai dari artikel jenis deskripsi, narasi, persuasi, argumentasi, fiksi sampai non fiksi. Gue pelajari satu persatu. Gue berharap menemukan gaya menulis yang gue bangets.
Sampai akhirnya gue membaca buku Raditya Dika yang berjudul Ubur-Ubur Kecebur. Eh Ubur-Ubur Lembur maksudnya. Gue pelajari cara dia merangkai kata, pemilihan diksi, alur cerita, sampai ke pemilihan judul.
Dan gue baru ngeh ternyata ada jenis tulisan seperti itu. Seperti curhat, seperti bertutur mengenai apa saja. Dari masa kecil, patah hati, kisah pertemanan, kisah cinta yang tak sampai, cinta yang tak dianggap, cinta laura, kok cinta laura?? Entahlah
Setelah itu gue membaca lagi bukunya Ernest Prakasa Setengah Jalan, dan gaya bercerita dalam tulisan seperti itu yang menurut gue paling pas dengan gaya penulisan gue. Gue pun mengingat dan mengorek-ngorek lagi pengalaman gue selama ini.
Dan ternyata pengalaman gue gak lebih baik malah lebih buruk, bahkan cenderung aneh. Gue pun akhirnya menemukan gaya menulis gue sendiri. Yakni menulis berdasarkan pengalaman-pengalaman. Dan itulah yang gue lakukan sekarang, bercerita dan berkisah berdasarkan pengalaman.
Dan ternyata gue menemukan cara paling efektif dalam menulis. Yaitu menulis satu paragraf perhari. And it’s work.
Gue mulai menulis caption instagram satu paragraf. Walaupun kadang-kadang gambar dan captionnya berlawan arah dan gak nyambung. Gambarnya langit captionnya keindahan laut. Gambarnya laut captionnya sungai. Gambarnya sungai captionnya jalan raya. Sungguh aneh.
Namun dari situlah gue akhirnya paham, bahwa menulis pun butuh perjuangan, perjuangan pake banget. Layaknya cinta juga butuh perjuangan. Btw cintanya siapa? Cinta Rangga, atau Cinta Laura? Oke gak penting, bye!!!!
Tujuan mulanya gue menulis adalah biar terlihat keren, dan diakui eksistensinya. Lo tahu kan Rangga? Kerjaannya diperpus baca buku, lalu nulis puisi, cinta datang, jadian, lalu Rangga pergi ke New York. Gue pingin menulis seperti itu biar populer dan terkenal.
Ternyata menulis tak sesederhana tujuan seperti itu. Menulis bukan sekadar untuk keren, populer, dan terkenal. Menulis itu menyampaikan gagasan, pikiran, pendapat, pengalaman serta sudut pandang terhadap segala hal.
Dari bukunya Raditya Dika Ubur-Ubur Lembur gue jadi paham, bahwa menulis itu menyampaikan sesuatu yang penting untuk orang lain. Apa yang lo rasa penting itulah yang kita sampaikan, itulah yang kita share, yang kita sebarluaskan.
Menulis itu juga kita harus rela punya PR tiap hari. Kata Raditya Dika. Dan itu yang gue rasakan juga. Gue rasa punya beban yang harus gue cicil setiap waktu. Mikir lanjutan paragraf, lanjutan tiap bab, lanjutan-lanjutan lainnya.
Ketika lo sudah menulis dan lo sudah terbiasa, maka menulis itu menjadi gampang. Lo cuman butuh pulpen dan kertas atau ditambah dengan secangkir kopi. Dan yang paling mudah adalah menulis karena cinta. Bukan cintanya Rangga, apalagi cinta laura. Tapi menulis karena lo suka terhadap apa yang lo kerjakan. Bukankah pekerjaan yang paling menyenangkan adalah pekerjaan yang dilandasi dengan cinta?
Setelah menemukan gaya menulis. Gue pun mulai rajin menulis. Sama seperti sebelumnya. Paragraf demi paragraf. Kalimat demi kalimat.
Dan pengalaman pertama yang gue bagikan adalah pengalaman gue KKN di Thailand Selatan selama lima bulan. Sungguh awal yang baik hhee.
Gue berbagi pengalaman tentang apa saja yang gue lakukan di sana. Mulai dari persiapan, pelaksanaan, hingga evaluasi, kok mirip skripsi???
Oke lanjut. Bab demi bab gue tulis. Akhirnya gue kumpulkan satu file. Ternyata halamannya gak banyak Cuma sekitar 40 halaman. Padahal gue merasa sudah menuliskan semua pengalaman. Gimana mau di cetak jadi buku? Kalaupun dicetak hasilnya tipis amat. Gue berpikir keras, gue gak tidur, gue gue main bola, gue ke Hongkong, gue ke Inggris, gue terjun payung tanpa parasut, gue pergi ke Bulan ketemu supermoon. Oke sudah mulai ngaco ni.
Gue pun menemukan ide untuk membuat buku pertama gue dengan dua bahasa. Yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Setelah mendapatkan ide saatnya gue mencari bala bantuan. Gue meminta bantuan kepada seorang pakar ternama, menguasai hampir seluruh bahasa manusia, semua negara, seorang yang tidak perlu dibayar, cukup dengan kouta internet. Dikesempatan ini gue perkenalkan pakar tersebut. Terimakasih google translate. Jasamu tak lekang oleh waktu.
Dan yang menjadi pertanyaan mengapa hanya berbahasa Indonesia dan bahasa Inggris? Sebenarnya bisa aja buat dalam bahasa Jepang atau Korea, atau bahasa Thailand sekalian. Tapi jujur, buat dua bahasa Indonesia dan bahasa Inggris aja susahnya minta ampun, apalagi bahasa yang lain. Please gue gak kuat.
Hal selanjutnya yang gue lakukan setalah naskah jadi adalah gue mencari penerbit. Gue browsing tentang penerbitan, yang mau nerbitin naskah gue. Gue menemukan ada dua jenis penerbitan. Pertama adalah penerbit yang memang menerbitkan naskah-naskah buku, yang bersedia bekerja sama dengan penulis, baik mengenai royalti, jumlah cetakan buku, promosi dan hal-hal teknis lainnya. Kedua adalah penerbit indie yang menerbitkan buku sesuai dengan kesepakatan antara penerbit dan penulis.
Setelah membaca dan memahami naskah gue. Gue menyadari ternyata ruang lingkup pembaca buku gue hanya terbatas para mahasiswa yang ada di universitas gue. Sebagian besar isi buku tersebut adalah tentang pengalaman dan program KKN yang gue lakukan.
Gue pun berinisiatif untuk menerbitkan buku gue tersebut dengan cara indie.
Gue kemudian mempelajari bagaimana mengatur margin yang pas, mengatur layout, editing, dan membuat cover. Semua gue lakukan sendiri. Setelah semua siap gue menemui teman gue yang punya usaha percetakan dan foto copy. Percetakannya lumayan besar di kota gue. Denga nego tipis naskah gue pun terbit menjadi buku. Semua biaya cetak menjapai 1 juta rupiah. Untungnya orang tua gue memberikan subsidi sebesar 600 ribu. Dan bukupun sampai ketempat gue.
Itulah buku pertama gue. Cikal bakal untuk buku-buku gue selanjutnya. Aamiin
Jumlah semua buku yang gue cetak berjumlah 16 buah. Buku itu pun gue bagikan secara gratis untuk dosen-dosen, teman-teman kuliah gue, dan gue donasikan ke perpustakaan universitas.
Pesan yang ingin gue sampaikan dari semua ini adalah lakukan apapun yang lo lakukan karena cinta.
Agak gak nyambung, tapi intinya itulah hehe. See yaa/.....

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar