NOVEMBER 2017: AWAL MULA

By Berbagi Ilmu - Juli 23, 2018


Setelah melewati berbagai rangkaian proses seperti pembuatan pasport, mengurus administrasi dan pembekalan, berangkatlah gue bersama delapan orang lainnya dari Palangka Raya-Jakarta-Kuala Lumpur- Thailand Selatan.

Total kami yang berangkat dari Palangka Raya berjumlah 9 orang, gue sendiri bersama Sandi berasal dari Fakultas Agama Islam, enam orang lainnya berasal dari prodi pendidikan ekonomi (Essy, Ulfa, Khusnul, Nurjenah, Sapri dan Bima) dan ibu dosen pembimbing.

Akhirnya gue pun merasakan bagaimana rasanya berpergian menggunakan alat transportasi udara ini (pesawat). Nahasnya perjalanan ini harus diwarnai dengan insiden pasport gue yang tertinggal dikoper. Setelah sampai di bandara Soekarno-Hatta gue bersama dosen pembimbing harus melapor ke bagian bagasi mengenai pasport gue tersebut. Tanpa pasport gue gak bisa masuk donk ke bandara Kuala Lumpur, bisa berabe urusan, beruntung pasport gue akhirnya didapatkan kembali.

Setelah sampai di bandara Kuala Lumpur sesuai instruksi sebelumnya rombongan gue bertemu dengan rombongan (perguruan tinggi) lainnya. Total yang mengikuti KKN-PPL angkatan (9) ini berjumlah tujuh perguruan tinggi dengan total peserta sebanyak 46 mahasiswa.

Dari pulau Sumatera ada perguruan tinggi Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan, dari pulau Kalimantan ada Universitas Muhammadiyah Palangkaraya, dari pulau Jawa ada Universitas Muhammadiyah Tanggerang, IAIN Jember, IAIN Kediri, IAIN Tulung Agung, dan dari pulau Bali ada STAI Denpasar Bali.

Setelah semua rombongan berkumpul gue dan empat puluh lima mahasiswa dan beberapa dosen pembimbing dikumpulkan dalam satu bus, perjalanan akan dilanjutkan melaui darat dengan rute Kuala Lumpur-Thailand Selatan.

Perjalanan kami lakukan pada malam hari. Rasa kantuk dan lelah yang menimpa membuat kami tidak terlalu banyak berkomunikasi. Setelah hampir menempuh perjalanan belasan jam akhirnya rombongan sampai diperbatasan wilayah Kuala Lumpur dan Thailand Selatan. Gue bersama kawan-kawan lainnya langsung menepi dan seperti yang lo tau, foto bersama. Beberapa mahasiswa lainnya mulai bercengkrama satu dengan lainnya. Sementara gue dan Sandi asyik nge-vlog ala-ala orang udik.

Setelah melengkapi dan menyelesaikan administrasi di imigrasi setempat, perjalanan kembali dilanjutkan. Kami pun sampai di hotel Park View hotel wilayah Pattani. Di hotel ini kami akan menginap selama satu malam dan esok harinya pihak sekolah tempat kami melaksanakan KKN-PPL selama lima bulan akan datang menjemput.

Malam harinya kami mendapat jamuan makan dan disambut oleh panitia pelaksana KKN-PPL. Setelah melakukan perkenalan satu dengan lainnya serta pembagian tempat dan nama sekolah kami pun kembali ke ruang hotel masing-masing untuk beristirahat kembali.

Gue dan Sapri mendapat tempat KKN-PPL di wilayah Yala, sementara Essy, Ulfa, Khusnul, Nurjenah, Sandi dan Bima bertempat KKN-PPL di wilayah Narathiwat. Masing-masing sekolah ada yang berjumlah satu mahasiswa ada juga yang satu sekolah berjumlah tiga mahasiswa.

Keesokan harinya acara pembukaan pun berlangsung. Acara ini dihadiri oleh pejabat setempat dan pihak sekolah. Setelah penyampaian beberapa sambutan, acara pun selesai dan kami langsung ikut pihak sekolah.

Gue sendiri dijemput oleh pengurus sekolah bersama sanak familinya. Sesampainya di sekolah gue sempat sedikit canggung, mungkin karena ekspektasi yang berlebihan kali ya. Sekolah tempat gue KKN-PPL ini basicnya adalah pondok pesantren, namun beberapa tahun terakhir pondok ini menjadi sekolah agama semi-modern.

Sesampainya di sekolah gue pun diberikan sebuah tempat untuk tinggal. Tempat itu lebih tepatnya disebut asrama.  Layaknya pelajar lainnya gue akan tinggal di asrama, bedanya asrama gue sedikit lebih besar dari asrama siswa lainnya.

Peraturan di sekolah ini mewajibkan semua pelajar laki-laki maupun perempuan tinggal di asrama. Pihak sekolah sempat cerita ke gue tahun ini (2018) akan dibuka kelas di mana pelajarnya boleh memilih untuk tidak tinggal di asrama.

Gue sendiri lebih suka menyebut sekolah ini dengan nama lamanya yaitu Pondok Yalor. Nama sekolah ini sebenarnya pasca menganut aturan sekolah agama semi-modern bernama Thammasad Nislam School.

Pendirinya sendiri bernama Tok Puasa entahlah siapa nama asli beliau. Sekolah ini kemudian diurus oleh anak perempuannya yang pelajar sebut dengan nama Mami (gue juga gak tau siapa nama asli beliau), karena usia mami yang gak lagi muda (alias tua) sekolah ini diurus oleh anak perempuannya serta suaminya. Anak perempuan Mami ini bernama Salwa dan suaminya bernama Ahmad keduanya merupakan lulusan Mesir.

Selama tinggal di asrama gue harus masak sendiri, cuci baju sendiri, makan sendiri, hidup pun sendiri (kok kaya lagu dangdut).

Meskipun disebut pelajar tetapi ada juga siswa yang umurnya sama dengan gue bahkan secara fisik lebih gede dari gue, wadau gimana gue ngajarnya ini.

Program ini memang bernama KKN-PPL tetapi kegiatan sehari-hari yang gue lakukan di pondok ini adalah mengajar dan mendapat gajih. Gue mengajar bahasa Inggris dan bahasa Melayu. Jadi secara logikanya ada orang Indonesia, bertempat di Thailand mengajar bahasa Inggris dan bahasa Melayu. Bahasa Melayu yang digunakan adalah bahasa Melayu Malaysia.

Beberapa minggu pertama gue masih enjoy menikmati kehidupan gue yang baru. Namun, entah kenapa diminggu-minggu selanjutnya gue meraasa bosan dan rasanya ingin kembali aja ke Indo. Seperti yang sempat gue singgung sebelumnya ketika kita lari dari satu kenyataan, kita akan menemukan satu kenyataan baru. Dan itulah yang gue alami pada waktu itu.

Di pondok ini gue kemudian berteman dengan beberapa pelajar yang umurnya tidak jauh beda dengan gue. Dari pertemanan ini gue baru memahami beberapa perbedaan mendasar antara masyarakat Thailand yang notabene beragama Budha dengan masyarakat Thailand Selatan yang mayoritas beragama Islam.

Hari-hari selanjutnya gue lalui dengan lebih santai dan rileks, bahkan gue dengan beberapa pelajar laki-laki menjadi akrab. Tiba-tiba terlintas di benak gue sebenarnya siapa yang belajar. Mereka yang belajar ke gue? atau gue yang belajar ke mereka? Mungkin juga gue dan mereka sama-sama belajar. Bulan November 2017 ini gue menemukan sesuatu yang baru.

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar