KKN THAILAND SELATAN DAN 3 ALASANNYA

By Berbagi Ilmu - Juli 21, 2018


Banyak yang bertanya-tanya ketika gue memutuskan untuk mengikuti program KKN Thailand Selatan. Secara, gue gak pernah nyebutin alasannya dengan begitu spesifik. Namun, setelah gue pikir-pikir ulang, sudah saatnya untuk buka kartu sekaligus buka rahasia hehe. Ada tiga alasan utama sih kenapa gue memutuskan untuk take a risk (mengambil resiko) ini. Alasan tersebut yaitu, perempuan lari dari kenyataan demi sebuah pengalaman. Oke mari kita kulik satu persatu.

Perempuan. Why this reason up to number one?? Tiga hal utama yang menjadi penyebab seorang laki-laki hilang akal sehatnya (harta, tahta dan wanita). That’s real fact (fakta yang nyata). Perempuan itu sebut saja Bunga. Gue mengenal Bunga dari semester awal kuliah di UMP. Bunga merupakan seorang perempuan yang bisa dikatakan cukup banyak memberikan pengaruh baik secara langsung maupun tidak langsung ketika gue mengambil keputusan ini.

Bunga merupakan perempuan rantau dari Thailand Selatan. Dari awal kenal sih gue sudah merasa fell (ceileh). Ketika mengetahui doi dari wilayah yang jauh (Thailand Selatan) gue dalam hati berjanji (gue harus ke sana), kesempatan tersebut akhirnya gue dapatkan dari program KKN yang universitas buat. Janji dalam hati gue tersebut akhirnya gue buktikan. Gue ke sana (rumahnya).

Melalui program ini jugalah gue akhirnya mengenal keluarga Bunga. Sebenarnya doi sih gak terlalu suka gue nemuin keluarganya. Tetapi dengan berbagai alasan, trik dan intrik gue bertemu juga akhirnya, tentu dengan bantuan dari siswa-siswa tempat gue magang (kisah ini akan ada di bab selanjutnya).

Lari dari kenyataan merupakan alasan kedua gue mengikuti program ini. Rutinitas gue sebagai mahasiswa dan kegiatan gue lainnya membuat gue jenuh. Bahkan bisa dikatakan monoton. Gue perlu pergi ke tempat yang jauh, jauh dari “kebisingan”. Dan yang paling utama gue lari dari rutinitas kehidupan kampus haha. Gue lari dari kenyataan tepatnya gue lari dari konflik hidup.

Ternyata lari dari satu konflik membuat lo menemukan konflik yang baru. Ketika gue lari dari konflik dalam negeri gue menemukan konflik di luar negeri. Konflik-konflik tersebut memang bisa dikatakan wajar dalam kehidupan ini. Tanpa adanya konflik hidup lo gak akan rame.

Semakin rame konflik lo semakin berwarna hidup lo (dengan catatan lo harus sabar), banyak juga orang-orang yang ketika diberikan suatu konflik merasa gak kuat dan putus asa. Kita sering menyaksikan berbagai berita di media tentang kasus seorang istri yang lari dari rumah meniggalkan anak dan suaminya, atau suami yang melakukan KDRT karena banyaknya beban hidup, atau ada juga yang memilih bunuh diri, dan masih banyak lagi contoh-contoh kasus lainnya. Ini adalah jelas-jelas pemaknaan yang salah terhadap hidup.  Kok jadi ke sini sih hehe. Oke lanjut ke alasan selanjutnya.

Alasan ketiga adalah demi sebuah pengalaman. Selama ini gue berprinsip dalam hidup, bahwa pengalaman adalah harta yang tidak ternilai harganya, begitu pula dengan kesempatan. Kesempatan tidak datang dua kali, kalau pun datang ia gak akan sama lagi. So gue harus pergi untuk menjemput pengalaman khususnya pengalaman naik pesawat dan pengalaman ke luar negeri.

Jujur selama ini di usia gue yang memasuki 23 tahun gue gak pernah naik pesawat haha. Alasan utamanya sih “kemana dan berapa biayanya” sebenarnya banyak destinasi yang ingin gue kunjungi, tetapi masalah harga tiket dan keuangan menjadi faktor penentu lainnya. Hasilnya, setiap lewat bandara gue selalu berandai-andai, dan bertanya-tanya kapan ya gue bisa naik pesawat, bagaimana sih rasanya di dalam pesawat hahaha.

Luar negeri. Kisah ini sama halnya dengan pesawat tadi. Boro-boro keluar negeri, keluar pulau Kalimantan aja belum pernah. Paling jauh perjalanan gue ke Banjarmasin, itupun jarang. Selebihnya gue lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sendiri. Kalau mau keluar dan melihat dunia yang gue lakukan adalah dengan melihat foto, membaca buku-buku travelling serta nonton video ala-ala vlogger yang sering jalan-jalan. Miris amat haha.

Pergi ke luar negeri tentu bukan perkara mudah. Mengingat finansial gue yang terbatas, jauh-jauh hari gue sudah memperhitungkan masalah ini. uang dari gajih bekerja di Kalteng Pos gue simpan sedikit demi sedikit, walaupun sudah menabung lama tetap aja duitnya kurang haha terpaksa akhirya gue menjual alat cukur gue yang sempat gue singgung di post sebelumnya.

Masalah yang tidak kalah penting adalah keluarga. Bukan perkara mudah untuk meminta ijin, gue sendiri sebenarnya gak pernah pergi dari rumah dalam waktu yang lama, paling lama 3 hari (waktu kerja jadi surveyor BPJS) selebihnya gue adalah anak rumahan. Namun, sekali lagi ketiga alasan tersebut mematahkan segala ketidakmungkinan itu.

Banyak hal yang gue dapat ketika gue mengambil keputusan ini. Gue jadi lebih memahami lagi makna nasionalisme, perbedaan budaya, suku hingga bangsa. Hampir lima bulan lamanya gue berada di suatu tempat yang tidak pernah gue bayangkan. Berbagai kisah dan cerita terukir dalam sanubari. Kisah-kisah itu selanjutnya akan gue share di blog ini. Stay tune.


  • Share:

You Might Also Like

0 komentar