JANUARI 2018: SEPENGGAL KISAH

By Berbagi Ilmu - Juli 29, 2018


Gue adalah orang yang tidak terlalu suka dengan dunia atau hal-hal yang berkenaan dengan sepak bola. Tetapi di pondok ini tidak ada kegiatan yang lebih mengasyikkan bagi pelajar selain bermain bola. Hampir setiap petang pelajar-pelajar (laki-laki) bermain sepak bola. Lapangan yang sejatinya menampung 22 pemain diisi oleh hampir semua pelajar.

Kebiasaan bermain bola ini sudah menjadi hal lumrah dan membudaya dikalangan para pelajar laki-laki di Thailand Selatan.

Menurut cerita dari Ibrahim tidak lama lagi para pelajar ini akan mengadakan pertandingan bola yang diadakan oleh salah satu perguruan tinggi di Yala. Euforia pertandingan ini juga berimbas di pondok gue. Setiap pagi Ibrahim bersama kawannya yang mengikuti pertandingan berlatih. Latihan rutin yang mereka lakukan tiap pagi adalah lari. Mereka lari bisa sampai 6 km perhari.

Karena rasa penasaran gue pun ikut latihan lari ini, tetapi tidak setiap hari. Gue hanya ikut lari ketika hari Jum’at atau hari Sabtu, itupun gue selalu menjadi pelari diurutan paling terakhir. Selain berlatih lari, mereka juga latih tanding antar sekolah sebagai usaha untuk mengukur kesiapan tim pada saat berlaga nantinya. Latih tanding ini biasa mereka lakukan di luar pondok. Sesekali gue juga ikut menyaksikan mereka latih tanding ini.

Hari pertandingan pun tiba. Terlebih dahulu mereka mengikuti penyisihan grup demi lanjut ke babak selanjutnya. Tetapi nasib berkata lain mereka kalah di fase grup ini. Tetapi satu hal yang gue lihat dari mereka, kekalahan ini tidak membuat mereka bersedih atau pun terpuruk, mereka tetap semangat berlatih lagi dan lagi. Begitulah seharusnya menyikapi pertandingan, ada yang kalah ada pula yang menang. Mungkin mereka kalah hari ini, tidak menutup kemungkinan mereka akan menang di pertandingan selanjutnya.
--

Proses pembuatan visa yang tak kunjung selesai pada bulan Desember lalu, kemudian dilanjutkan pada bulan Januari ini. Pembuatan visa kali ini dilakukan melalui dua fase sesuai zona wilayah. Fase pertama yaitu untuk wilayah Yala dan Pattani. Fase kedua untuk wilayah Songkhla dan Narathiwat. Sama seperti pembuatan visa sebelumnya kami menuju kota Bharu dengan bus. Beruntung proses pembuatan visa kali ini berhasil.

Saat pembuatan visa ini ada hal berbeda yang gue rasakan. Gue merasa Melati mulai menjaga jarak terhadap gue. Tetapi, perasaan gue kemudian tertepis dengan sendirinya. Setelah pembuatan visa kami akrab kembali.
--
Baru-baru ini sekolah membuat semacam program yaitu kunjungan ke rumah siswa. Kunjungan ke rumah siswa ini dilaksanakan setiap minggu selama dua hari. Yaitu pada hari Jum’at dan Sabtu. Tujuannya untuk mempererat hubungan antara sekolah dan keluarga siswa.

Pada saat kunjungan ini biasanya pihak keluarga siswa akan menyediakan hidangan atau jamuan. Layaknya seperti suasana lebaran, kunjungan dari satu rumah, ke rumah lainnya.

Bertepatan dengan hari kunjungan ini pula gue mendapat kabar bahwa pada bulan Februari mendatang akan diadakan perlombaan. Perlombaan ini memang bukan hal baru yang dilakukan. Hampir setiap angkatan peserta KKN-PPL mengadakan lomba ini. Gue pun terpilih menjadi salah satu panitianya.

Setelah berkomunikasi dan penjelasan dari pihak Badan Alumni kami panitia yang terpilih akan melaksanakan rapat mengenai tema lomba dan rangkaian kegiatan lomba lainnya. Kami (para panitia yang terpilih) kemudian memutuskan untuk melaksanakan rapat di Pattani tepatnya di sekolah Congrangsat Witaya School (CEROWO).

Tempat sekolah ini tidak berjauhan dengan masjid Kresik. Masjid kresik merupakan masjid bersejarah bagi masyarakat Islam wilayah Thailand Selatan. Menurut kabarnya dari masjid inilah syiar agama Islam disampaikan.

Di sela-sela agenda rapat ini pula kami para panitia yang telah sampai duluan kemudian berkesempatan mengunjungi masjid ini. Setelah shalat dan berfoto di masjid kami kemudian melanjutkan agenda utama kami yakni rapat perihal lomba.

Jalannya rapat kami bagi menjadi dua bagian. Bagian pertama (malam hari) mengenai tema lomba dan pemilihan ketua lomba serta para penanggung jawab masing-masing divisi. Bagian kedua (esok harinya) mengenai mekanisme dan tata tertib lomba. Adapun lomba tersebut antara lain lomba pidato bahasa Inggris, lomba puisi, lomba MC bahasa Indonesia dan lomba MC bahasa Inggris.

Setelah rembuk mengenai tema lomba terpilihlah tema lomba yaitu Festival Bahasa. Sebagai ketua dipilihlah Nur Faizin (IAIN Jember). Gue, bersama Hanna (IAIN Kediri) dan Essy (UM Palangkaraya) terpilih sebagai seksi acara.

Rapat kemudian dilanjutkan keesokan harinya. Kami kemudian mulai memilih para juri, dan juga merundingkan masalah tentang tata tertib jalannya lomba.

Lomba sendiri akan dilaksanakan (Tanggal 9-10 Feb 2018) sekitar dua minggu setelah rapat ini. Menurut kabar yang kami dapatkan lomba akan dilaksanakan di Pattani Saiburi. Namun, karena beberapa hal tempat dilaksanakan lomba berpindah ke Yaring yang masih berlokasi di Pattani.
Setelah itu kami para peserta KKN-PPL mulai memilih para peserta didik yang dianggap cukup mumpuni dan berpeluang memenangi lomba.

Gue sendiri memilih Mawar sebagai MC bahasa Indonesia, Ibrahim mengikuti lomba puisi, Hamdan mengikuti lomba pidato bahasa Inggris dan Affan Ismail mengikuti lomba MC bahasa Inggris. Kami pun mulai berlatih di hari-hari selanjutnya.

Penggalan Kisah Tentang Mawar

Alasan gue memilih mawar mengikuti lomba ini sebenarnya sederhana. Gue ingin mengenal sosok ini lebih jauh lagi (modus). Karena sifat kepo yang pernah gue singgung sebelumnya gue pun bertanya-tanya tentang rupa wajah dari Mawar.

Hal ini gue sampaikan ke Rusdi. Rusdi merupakan kawan satu kelas dengan Mawar dan bisa dibilang punya hubungan khusus dengan Mawar. Dari Rusdi inilah gue mendapatkan gambar wajah Mawar tanpa cadar dan gue save di galeri smartphone.

Menurut cerita yang gue dapat dari Rusdi. Rusdi mendapatkan gambar ini langsung dari Mawar Sendiri yang dikirim via messenger. Tetapi dengan catatan Rusdi harus merahasiakannya.

Pada saat lagi latihan untuk lomba. Mawar meminjam smartphone gue seperti biasanya. Mawar selalu meminjam smartphone gue. Biasanya doi meminjam untuk foto selfie atau mendengar lagu.

Kecuriaan gue bermula ketika gue menemukan bahwa gambar Mawar mendadak hilang dari galeri gue. Setelah itu baru gue ingat bahwa Mawar baru saja meminjam smartphone gue.

Dan tak berselang lama sikap Mawar mendadak berubah ke gue. Oke pada saat itu juga gue merasa sangat salah terhadap Mawar.

Bahkan dari temannya gue mendapat kabar bahwa Mawar menangis karena hal itu. Sikap kepo gue akhirnya menemukan akibatnya.

Beruntungnya Mawar tetap mau berlatih untuk lomba walapun sikapnya begitu dingin ke gue. Pada saat itu juga gue langsung meminta maaf. Doi sempat tidak mau memaafkan gue. Gue pun mengajak Rusdi yang memberikan foto tersebut untuk sama-sama meminta maaf. Setelah bernegosiasi akhirnya Mawar mau memaafkan gue.

Gue menjadi begitu bersalah bukan hanya kepada Mawar tetapi juga kepada Rusdi. Gue telah menghancurkan kepercayaan Mawar kepada Rusdi. Rusdi merupakan satu-satunya orang yang dipercaya oleh Mawar. Foto itu bisa sampai ke Rusdi juga karena Mawar yang mengirimkannya sendiri untuk Rusdi. Kini pertemanan Mawar dan Rusdi gue rusak dengan sikap kepo gue yang terlalu berlebihan.

Sepenggal Kisah Lainnya

Selain akrab dengan Ibrahim gue juga akrab berkawan dengan Fatah. Fatah merupakan pelajar laki-laki (setingkat SMP) di pondok ini. Dari pertemanan ini gue mengetahui bahwa kaka laki-laki Fatah sedang kuliah di Indonesia tepatnya di Ternate. Selain akrab dengan Fatah sendiri. Gue juga bisa dibilang dekat dengan bokapnya. Adalah Ust Aziz namanya. Beliau ini merupakan pengajar khot (menulis kaligrafi) di pondok ini. Beliau sendiri tidak mengajar setiap hari di pondok ini. Beliau hanya masuk mengajar satu kali satu minggu yaitu pada hari kamis. Beliau ini merupakan orang yang begitu baik dengan gue. Setiap hari kamis atau hari ketika menjenguk Fatah beliau selalu membawakan makanan untuk gue.


  • Share:

You Might Also Like

0 komentar