JADI GURU MAGANG DI SMP

By Berbagi Ilmu - Juli 19, 2018


Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Gue sendiri baru memahami istilah tersebut manakala gue belajar di prodi PAI (Pendidikan Agama Islam). sebagai “calon” tenaga pendidik, kami dibekali dengan beberapa perlengkapan untuk mengajar. Perlengkapan tersebut terkait dengan disiplin ilmu yang kami geluti.

Sebagai mahasiswa “pendidikan” kami mendapat mata kuliah wajib yaitu PPL (Praktek Pengalaman Lapangan) atau istilah sederhananya magang. Mata kuliah ini terbagi menjadi dua yakni PPL 1 dan PPL 2. Perbedaannya yaitu dari tempat dan siswa yang lo ajar. PPL1 siswa yang lo ajarin adalah teman-teman lo sendiri, sedangkan PPL 2 siswa yang lo ajar adalah siswa beneran dan tempat beneran, bukan settingan.

Jika di SMK dulu tempat magang bisa dipilih sendiri, berbeda halnya dengan kuliah, tempat magang untuk melaksanakan PPL ditentukan oleh pihak fakultas. Beruntung yang dapat disekitaran kost atau tempat tinggal kalo dapat tempat PPL yang jauh??

Tempat magang tersebut terbagi lagi menjadi beberapa jenjang pendidikan yaitu SD, SMP, SMA, hingga SMK. Gue sendiri mendapatkan kesempatan magang di SMP. Tepatnya di SMP 6 Palangkaraya. Setelah diberikan pembekalan dari pihak kampus, kami pun diantar oleh dosen pembimbing ketempat magang.

Kami (Universitas Muhammadiyah Palangkaraya) yang magang di SMP ini berjumlah tujuh orang. Enam orang prodi pendidikan ekonomi (nanti mengajar IPS) dan gue sendiri  prodi PAI. Setelah sampai di tempat magang kami kemudian mendapat seorang guru pamong (guru yang bertugas memberikan arahan selama magang).

Melalui guru pamong inilah kita mendapatkan informasi mengenai kelas serta waktu yang dapat  kita gunakan untuk mengajar. Sebelum masuk kelas kita mesti berkonsultasi dulu dengan guru pamong dan dosen pembimbing untuk dimintai pendapat tentang RPP (Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran), setelah ACC dari keduanya barulah kita boleh mengajar.

Alokasi waktu magang ini berlangsung sekitar tiga bulan dengan jumlah masuk kelas terbimbing sebanyak dua belas kali pertemuan serta satu kali ujian. Yang dapat kelas lumayan sering ditiap minggu maka doi secara otomatis cepat melaksanakan tugas ini dan cepat ujian. Gue sendiri mendapat jatah mengajar seminggu dua kali pertemuan.

Menjadi seorang guru ternyata tidak mudah. Berbagai problematika akan kita temui di dalam kelas. Mulai dari siswa yang tidak bisa diam, siswa yang suka mengganggu, siswa yang membuat onar dan sebagainya-sebagainya (mirip-mirip gue dulu waktu SMP). Cocok banget untuk mereka yang suka tantangan.

Selain problematika dalam kelas menjadi seorang guru juga membuat kita harus serba tahu, kadang di dalam kelas ada aja siswa yang nyeletuk dan bertanya hal-hal yang aneh bahkan bukan dibidang pelajaran kita. Untuk mengatasi situasi tersebut maka guru mesti pandai-pandai ngeles atau improvisasi.

Siswa: Pa, kenapa manusia berjalan dua kaki?
Siswa: Pa, kenapa kodok jalannya melompat?
Siswa: Pa, kenapa teling manusia bisa mendengar?
Siswa: Pa, saya lapar.
Siswa: Pa, kenapa si Nisa cantik?
Siswa: Pa, apa kabar?
Siswa: Pa, sudah berapa lama jomblo?
Siswa: Pa, kapan nikah?
Siswa: Pa, bagaiman kriteria calon pasangan yang baik? (oke cukup!! belum saatnya cinta-cintaan)

Menjadi guru juga membuat lo harus menghadapi deadline tiap hari hingga tiap minggu. Minggu ini belajar apa, minggu depan apa lagi, hari ini metode apa yang cocok digunakan, lusa bagaimana membuat siswa tertarik terhadap materi yang lo sampaikan, lusanya lagi lo mau pakai media apa. Ribet bet.

Magang di sebuah institusi sekolah membuat lo menjadi orang yang disiplin (walaupun ada juga biasanya mahasiswa yang tetap tidak berubah/susah disiplin) masuk pagi, setiap senin upacara, pakai sepatu pantopel, baju rapi, rambut disisir, plus pengharum badan.

Setelah melewati berbagai fase tersebut masa magang pun sampai di penghujungnya, beberapa teman gue sudah mulai ujian termasuk gue. Ada hal menarik sebenarnya ketika kita akan menghadapi masa ujian PPL ini. Sebelum dosen pembimbing dan guru pamong masuk dalam kelas (hari ujian tiba), kita pandai-pandai men-setting siswa (tentu dengan iming-iming hadiah) agar tidak mempersulit ketika ujian haha. Kalau bisa kelas dibuat seramai dan seaktif mungkin (dalam hal positif tentunya).

Beruntung kelas yang gue ajar paham tentang simbiosis mutualisme ini. Ujian gue pun berjalan lancar. Setelah ujian selesai, kita tinggal menunggu penjemputan dari pihak kampus. Gue sendiri gak ikut penjemputan ini, karena sebelum tanggal penjemputan gue sendiri sudah harus pergi ke Thailand Selatan untuk melaksanakan KKN.

Gue pun pamit terlebih dahulu ke pihak sekolah serta guru pamong. See yaa SMP, welcome Thailand Selatan. Apa sih latar belakang gue mengikuti program KKN Thailand Selatan ini, bagaimana proses dan apa alasan gue? Next akan gue share rahasianya di postingan selanjutnya.


  • Share:

You Might Also Like

0 komentar