GUE ANAK STM

By Berbagi Ilmu - Juli 03, 2018


Hal yang gue lakukan setelah lulus SMP adalah memilih sekolah lanjutannya. Ada tiga opsi yang pada itu gue miliki. Pertama, sekolah telkom. Kedua, sekolah menengah atas (SMA) dan sekolah menengah kejuruan (SMK) opsi yang diberikan bokap gue.

Gue pun bersama dua orang teman gue (Baruna dan Aldio) mendaftar di sekolah telkom (Banjarmasin) setelah mengikuti test berkas dan tes tertulis kami bertiga dinyatakan lulus dan bersiap melanjutkan ke tahap berikutnya yakni daftar ulang.

Sekolah telkom merupakan sekolah yang bisa dibilang cukup frestise (mahal) mengingat sekolahnya sendiri memiliki asrama dan fasilitas yang lengkap. Sebenarnya gue tidak begitu tertarik untuk memilh jurusan telkom ini, gue hanya coba-coba mendaftar mengikuti teman gue.

Setelah berunding dan menimbang baik buruknya, serta dana pendidikan yang harus dikeluarkan. Bokap dan nyokap gue memutuskan untuk tidak melanjutkan ke tahap berikutnya, alasan utamanya adalah masalah biaya pendidikan yang begitu mahal. Untuk biaya masuk sendiri harus merogoh kocek sekitar 10 JT (tahun 2010). Dengan berat hati gue katakan untuk teman gue bahwa gue gak bisa lanjut, gue mengundurkan diri. Ternyata hal sama juga menimpa Aldio doi juga mengundurkan diri. Dan tersisa Baruna sendiri yang melanjutkan sekolah telkom.

Opsi kedua adalah sekolah SMA atau SMK. Gue pun memutuskan untuk daftar di SMA favorit di kota gue. Yang mana hampir sebagian besar alumni SMP gue mendaftarkan diri di SMA tersebut. SMA tersebut adalah SMA Negeri 2 Palangka Raya. SMA tersebut sudah memiliki nama yang mentereng dan cukup diperhitungkan meningat tumpukan piala-piala yang berbaris rapi di lemari kacanya.

Kata bijak “manusia berencana Tuhan jualah yang menentukan” itu terjadi dengan diri gue. Gue yang berencana masuk ke SMA dikemudian hari memilih opsi ketiga yang gak pernah terpikirkan oleh gue sebelumnya yakni masuk ke SMK. Pilihan SMK ini bukan tanpa alasan. Setelah berunding, menyimak, mengobservasi dan menelaah bokap gue nyaranin untuk memilih sekolah kejuruan. Alasannya simpel sih biar cepat dapat kerja. I think that’s good, but...

Sekolah Menengah Kejuruan 1 Palangka Raya atau istilah kerennya STM. Sekolah Tinggi Mencintaimu haha. Oke tadi bercanda (garing+receh). Gue sendiri lebih seneng nyebut STM dari pada SMK. Nama STM (Sekolah Tinggi Menengah) memiliki pengaruh yang luar biasa bagi yang mendengarkan.

X: Eh lo sekolah di mana?
Y: Gue sekolah di SMA XYZ, kalo lo sekolah di mana?
X: Gue anak STM (sambil mengencangkan urat leher dan tangan yang dikepal-kepal)
Y: Eh, gue pergi dulu ya, ada rapat DPR ni.

Selain terkenal karena tingkat kesangarannya, STM juga dikenal dengan populasi wanita yang sedikit. Jumlah cewe yang masuk STM itu bisa dihitung pakai jari lo sendiri. Sedikit banget, bahkan ketua kelas kami dulu pernah punya wacana, impor wanita dari sekolah lain.

Karena suka menonton balap mobil F1 dan moto GP gue pun memilih jurusan perbengkelan yakni otomotif. Gue kira setelah masuk jurusan ini hidup gue akan menyenangkan, bisa nonton moto GP live, foto bareng sama Valentino Rosi, jadi mekanik balap yang setiap tahun keliling dari satu negara  ke negara lain ikut race. Tapi khayalan gue ketinggian, dan gue lupa bawa parasut. Gue pun akhirnya meluncur bebas bergesekan dengan atmosfir bumi.

Sekolah di STM membuat lo akan merasakan yang  namanya magang (praktek kerja di dunia industri sesuai jurusan yang lo pilih). Pada masa gue sekolah dulu masa magang ini terbagi menjadi dua, yaitu pada saat lo duduk di kelas 2 dan pada saat lo duduk di kursi, oke ralat pada saat lo duduk di kelas 3.
Gue sendiri memilih magang di bengkel resmi dan bengkel umum. Di kelas 2 gue magang di bengkel resmi Yamaha dan di kelas 3 gue magang di bengkel umum. Hal pertama kali yang lo rasakan ketika hari pertama magang adalah bingung. Kebingungan tersebut akan terpecahkan di hari-hari selanjutnya.

Selama tiga bulan magang di bengkel resmi (dealer) dan tiga bulan di bengkel umum membuat gue berpikir kembali untuk menjadi mekanik. Salah satu perbedaan mendasar bengkel resmi dan bengkel umum terletak pada kebersihannya. Di bengkel resmi kebersihan itu nomor 1 jika ada ceceran oli yang tumpah di lantai (keramik) harus segera dibersihkan, baju yang lo pake juga harus bersih kalo bisa di laundry.

Berbeda dengan bengkel umum (tidak semua bengkel melakukan ini) ketika ada oli yang berceceran lo tinggal ambil pasir sedikit, lalu lu tumpuk pasir itu di bekas ceceran oli, masalah kelar, masalah baju (semakin penuh baju lo dengan corang-coreng, lo akan dianggap sebagai real mekanik).
Selain magang hal yang menyenangkan lainnya adalah lo harus punya banyak kenalan dari sekolah lain. Alasannya klasik yakni cewe. Dengan banyaknya kenalan peluang lo mendapatkan pacar dari sekolah lain terbuka lebar.

Selain peluang mendapatkan pacar, peluang mendapat musuh juga sama besarnya. Lagi-lagi alasan cewe. Cewe kalian benar-benar racun dunia. Racuuuun-racuuuun, hilang akal sehatku memang kau racun. Salam The Changcuters.

Hal ini benar terjadi, sekolah gue penah bentrok dengan sekolah lain, gara-garaa urusan cewe. Kalo di tanya siapa yang nyerang duluan, lo pasti tau jawabannya, yaitu sekolah kami. Jadi cerita nya pada masa itu lagi demam film Crows Zero (film tawuran sekolah di Jepang).

Merasakan hal itu keren, teman-teman gue langsung mengikuti dan praktek. Alhasil salah satu teman gue tangannya patah dan masuk rumah sakit. Gue sendiri sebagai anak STM yang diperhitungkan memilih untuk tidak ikut. Gue langsung pulang ke rumah. Gue bantu lewat doa aja.

Setelah tiga tahun (2010-2013) bersekolah di STM gue pun dinyatakan lulus. Kenangan bersekolah di STM benar-benar berkesan,  jumlah siswa yang lebih banyak laki-laki, stigma anak STM dan hal lainnya. Memang lagu kisah kasih di sekolah itu benar-benar indah. Cerita cintanya benar-benar terasa absurd. Gue merasa bangga pernah bersekolah di STM.  Terimakasih STM salam anak otomotif.









  • Share:

You Might Also Like

0 komentar