FEBRUARI 2018: SEBUAH ALASAN

By Berbagi Ilmu - Juli 31, 2018


Januari telah berganti menjadi Februari. Masa perlombaan semakin dekat. Para pelajar pun sudah sering berlatih dan siap untuk berlomba.

Sebagai panitia gue di wajibkan untuk pergi terlebih dahulu demi mempersiapkan tempat dan hal-hal lainnya mengenai lomba. Karena hari itu hari kamis dan jadwal Ust Aziz mengajar gue pun  minta diantar menuju stasiun. Sedangkan para pelajar sendiri berangkat keesokan harinya (Jum'at tanggal 9 Feb 2018).

Sesampainya di tempat perlombaan gue bersama kawan-kawan panitia mulai memasang spanduk, tes sound, menyiapkan panggung serta menata kursi. Gue bersama peserta lomba dijadwalkan untuk menginap di resort ini.Tempat perlombaan sendiri berlokasi di pantai Yaring Pattani. Tempat yang nyaman dan memiliki pemandangan yang bagus.

Perlombaan dijadwalkan berlangsung setelah shalat Jum’at hingga esok harinya yaitu hari Sabtu (10 Februari 2018). Acara lomba berlangsung dengan meriah. Beberapa siswa bahkan ada yang sampai menangis saat membacakan puisi.

Di perlombaan tersebut juga datang bapak Konsulat Republik Indonesia dan jajarannya. Kehadiran bapak Konsulat disambut dengan hangat oleh para siswa peserta lomba dan kami peserta KKN-PPL. Bapak Konsulat kemudian menyampaikan beberapa pesan dan sebuah berita duka tentang teman kami.

Jadi cerita ada seorang teman kami yang berasal dari kampus X melakukan beberapa kesalahan yang membuat doi harus dikeluarkan dari sekolah tempat melaksanakan KKN-PPL. Sebagai gantinya teman kami tersebut kemudian di tempatkan dan magang di Konsulat.

Sayangnya dalam perlombaan tersebut tidak ada siswa dari pondok gue yang menang. Sebagian besar pemenang lomba berasal dari wilayah Pattani, Narathiwat dan Songkhla.
--
Informasi yang gue dapat dari Ibrahim menyatakan bahwa hari Jum’at dan Sabtu (16-17 Februari 2018) ini merupakan cuti terakhir para siswa (kembali ke rumah) di semester ini. Di bulan Maret sendiri pondok akan melaksanakan ujian kenaikan kelas.

Berkenaan dengan hal tersebut gue pun lantas bersama beberapa pelajar laki-laki (yang tidak kembali ke rumah) menyusun beberapa agenda kegiatan.

Setelah berunding dengan beberapa pelajar laki-laki tersusunlah sebuah agenda yang bisa dibilang cukup padat mengingat hanya dua hari saja kesempatan kami untuk mengeksekusi agenda itu. Berikut agenda yang kami susun.

1.      Berkunjung ke pondok Katong (rumah Mawar)
2.      Mendaki bukit Nangkeu
3.      Berkunjung ke rumah Ust Aziz
4.      Pergi ke rumah Bunga
--
Pada awalnya Mawar sempat keberatan ketika gue meminta untuk pergi ke rumahnya. Namun, karena gue beralasan (sekalian sebagai ungkapan permintaan maaf) bahwa ini adalah bulan-bulan terakhir gue berada di Thailand akhirnya doi luluh juga.

Jun’at malam gue bersama Ibrahim, Irfan, Hafizi, Syarif, Shofi dan Hambali pergi ke rumah Mawar. Kami pergi menggunakan sepeda motor. Jarak pondok Katong ini cukup jauh dari pondok tempat gue melaksanakan KKN-PPL.

Sesampainya di pondok Katong gue bersama para pelajar disambut oleh nyokap Mawar dan disuguhi makanan. Tak lama kemudian bokap Mawar pun menemui kami. Sebagai seorang pemilik pondok ayah Mawar banyak berbicara tentang pendidikan dan perbedaan pelajar Indonesia dan pelajar Thailand.

Setelah itu kami kemudian kembali ke pondok dan mempersiapkan diri untuk pergi bermalam dan mendaki bukit. Bukit Nangkeu ini gue ketahui dari Instagram milik kaka Fatah. Rencanya kami akan pergi ke rumah Ust Aziz terlebih dahulu kemudian bersama keluarga Fatah mendaki bukit.

Dengan menggunakan sepeda motor (lagi) kami tiba di daerah perbukitan. Karena bertepatan dengan hari libur, bukit penuh dengan pengunjung. Tak perlu lama kami lantas mendaki bukit. Setelah sampai kami kemudian mendirikan tenda dan bermalam di atas bukit. Udara yang dingin dan langit berhias bintang menemani kami malam itu.

Setelah shalat subuh kami pun menikmati mentari pagi yang indah dan juga sedikit berkabut. Kami kemudian berfoto bersama dengan latar sunrise tersebut. Tanpa di duga gue bertemu dengan Sapriyani dan Mustanginah yang sama-sama melaksanakan kegiatan KKN-PPL, lantas kami pun ber-swa foto kembali.

Mengingat agenda kami yang cukup padat sekitar jam 7 pagi kami turun dari bukit. Dan melanjutkan agenda berikutnya yaitu singgah di rumah Ust Aziz. Kami kemudian disambut dan dijamu dengan nasi minyok (semacam nasi kuning). Seperti yang gue pernah singgung sebelumnya Ust Aziz ini merupakan orang yang begitu baik dan sangat ramah. Kami kemudian berfoto bersama dengan Ust Aziz dan keluarga. Senang rasanya dapat bertemu dengan orang baik seperti Ust Aziz ini.

Setelah itu Ust Aziz mengantar gue bersama Hambali, Rusdi, Irfan, Affan dan Ahmad ke stasiun kereta api. Jarak antara stasiun dan rumah Ust Aziz tidak begitu jauh. Rumah Ust Aziz sendiri terletak di antara pondok gue dan pusat kota Yala.

Kami kemudian memesan tiket kereta api tujuan Yala-Tanyot Matt (Narathiwat). Rumah Bunga sendiri berlokasi di Aomanao daerah Tanyong Matt. Rencana berkunjung ini sudah gue susun begitu lama, bahkan sebelum gue sampai di Thailand Selatan seperti yang gue singgung di Thailand Setalan dan 3 alasannya di postingan sebelumnya.

Sempat ada beberapa kendala sebenarnya ketika kami sampai di stasiun. Menurut Bunga tidak ada kendaraan umum yang menuju tepat di kampungnya. Bunga sempat meminta keluaganya untuk menjemput kami di stasiun, tetapi karena beberapa kendala keluarganya berhalangan menjemput kami.

Dan hal tersebut cukup membuat para pelajar takut, serta tidak ingin melanjutkan perjalanan bahkan ada yang ingin kembali ke pondok. Namun, karena terus gue desak akhirnya mereka tetap mau ikut Para pelajar ini sebenarnya tidak jauh berbeda umurnya dengan gue bahkan secara ukuran fisik ada yang lebih besar dari gue. Yang membedakan gue dan mereka adalah mental dan tujuan. Mereka mau ikut karena ingin menikmati pantai yang tidak jauh dari rumah Bunga sedangkan gue punya alasan dan tujuan lain hehe.

Dengan menggunakan songthew (alat transportasi umum) dan sedikit tambahan biaya sampailah kami di Aomanao daerah rumah Bunga. Aomanao ini merupakan tempat dan daerah wisata berupa pantai dan konservasi alam. Setelah berputar-putar dan bertanya dengan beberapa pemuda setempat sampai jualah kami di rumah Bunga.

Kami kemudian disambut oleh ayah  Bunga dan diijinkan untuk menginap selama satu malam dirumahnya. Ayah Bunga merupakan orang yang ramah dan sangat humble. Setelah mengetahui bahwa gue adalah teman kuliah Bunga, ayahnya begitu senang dan begitu antusias mendengarkan cerita gue mengenai anaknya dan tentunya tentang Indonesia.

Selepas shalat magrib bersama di mushola yang berada di dekat rumah Bunga. Gue bersama warga sekitar dan ayah Bunga mengobrol dan berbagi cerita.

Keesokan harinya tanpa kami duga teman ayah Bunga mengajak kami untuk makan bersama, berkeliling kampung dan diundang ke rumahnya.

Nama teman ayah Bunga itu adalah Tuan Hasan. Beliau ini adalah pensiuanan guru sekaligus pengrajin batik. Beliau juga bercerita bahwa beliau pernah mengunjungi Indonesia dan belajar langsung tentang pengolahan batik. Begitu sukanya dengan batik beliau kemudian membuat rumahnya menjadi tempat pembuatan batik dan berjualan batik (Aomanao Batik).

Sekitar pukul 9 pagi ayah Bunga dan temannya mengantar gue dan para pelajar ke stasiun kereta api. Perjalanan singkat kami pun disudahi di stasiun tersebut.

Setelah bertemu dengan Melati, berkunjung ke rumah Mawar dilanjutkan berkunjung ke rumah Bunga, timbul pertanyaan di benak gue? Apa yang sebenarnya gue cari? Sebuah cintakah atau hanya rasa penasaran sesaat?


  • Share:

You Might Also Like

0 komentar