DESEMBER 2017: PERTEMUAN (1)

By Berbagi Ilmu - Juli 25, 2018


Sudah hampir 12 hari lamanya gue berada di asrama dan mengikuti kegiatan pondok. Seingat gue pertama kali sampai di wilayah Thailand Selatan ini pada tanggal 18 November 2017. Kini bulan November telah berganti menjadi bulan Desember.

Gue mulai terbiasa dengan segala aktivitas dan kegiatan pondok. Aktivitas pondok ini dimulai dari pukul 4:30 pagi hingga kira-kira pukul 9:00 malam. Pukul 5 pagi para pelajar bangun lalu dilanjutkan dengan shalat subuh serta mengaji kitab. Kegiatan ini berlangsung sampai pukul 7 pagi. Setelah itu para pelajar kemudian sarapan, (ada yang) mandi dan bersiap-siap untuk melanjutkan kegiatan yakni belajar. Jam belajar di pondok terbagi menjadi dua bagian yakni pembelajaran pada  pagi hari dan pembelajaran pada siang hari.

Materi yang dipelajari pagi hari (8:20-11:40) yaitu materi keagamaan, seperti Al-Qur’an, Hadist, Balaghah, menulis Arab, bahasa Melayu, bahasa Inggri, Fiqh, Tajwid, Tafsir dan cabang-cabang ilmu agama lainnya. Sedangkan materi yang dipelajari pada siang hari (13:00-15:40) adalah materi yang menyangkut keduniawian, seperti ilmu sosial, biologi, pengetahuan lingkungan, matematika, bahasa Thailand dan lainnya. Setelah itu pelajar beristirahat dan malam hari dilanjutkan dengan shalat magrib, mengaji kitab dan shalat isya (18:20-21:00).

Hari aktif pondok berlangsung dari hari Minggu hingga Kamis. Jum’at dan Sabtu merupakan hari libur. Peraturan pondok sendiri tidak memperbolehkan pelajarnya keluar dari pondok tanpa alasan yang jelas. Khusus hari jum’at pelajar diperbolehkan keluar pondok dari jam 12:00-14:00 untuk shalat Jum’at. Sedangkan pelajar perempuan tetap di dalam asrama. Pelajar sendiri mendapat jatah pulang kerumah selama dua hari setiap bulannya.

Kadang-kadang jika gue merasa bosan gue akan keluar pondok dan berjalan-jalan mengelilingi kampung. Ketika keluar, gue juga (kadang-kadang) mengajak pelajar. Pelajar yang biasa gue ajak keluar adalah Ibrahim.

Ibrahim merupakan wakil ketua (mungkin sekarang sudah menjadi ketua) pelajar laki-laki dipondok ini. Umurnya sekitar 19 tahun. Gue bersama Ibrahim membagi tugas, gue bertugas membuka jalan (meminta ijin) dan Ibrahim bertugas menjadi penunjuk jalan.

Selama berada di pondok ini gue mendapat sebutan baru yakni ustads (guru). Gue berasa gimana gitu ketika pelajar-pelajar ini memanggil gue dengan sebutan tersebut.

Selain akrab dengan pelajar laki-laki gue juga akrab dengan pelajar perempuan (modus haha). Salah satunya adalah gue sebut aja Mawar.

Mawar ini adalah pelajar perempuan yang berada satu kelas dengan Ibrahim. Dari awal gue melihat Mawar doi ini mirip dengan Bunga (alasan gue ke Thailand Selatan). Mawar adalah satu-satunya pelajar perempuan yang menggunakan cadar (miriplah sama Bunga).

Usut punya usut ternyata Mawar ini bukanlah pelajar biasa. Ayahnya merupakan ketua majelis agama (wilayah Yala) sekaligus pengurus dan pemilik pondok. Nama pondok yang dikelola ayah Mawar bernama pondok Katong.

Satu hal yang unik dari pondok Katong ini yaitu pelajarnya terdiri dari laki-laki semua. Umur Mawar sendiri sekitar 20 tahun gak jauh bedalah dengan umur gue haha (cerita mengenai Mawar ini akan ada di bab khusus).

Selain mengajar hal yang gue lakukan dipondok ini kadang-kadang menjadi imam shalat dan mengajar Al-Qur’an. Selebihnya gue akan berada di asrama dan sesekali bercengkrama dengan para pelajar laki-laki. Atau kadang-kadang diajak keluar oleh Ust Ahmad mengikuti acara kajian keagamaan.

Satu hal lagi yang unik  mengenai peraturan di pondok ini yaitu pelajar laki-laki dan pelajar perempuan dilarang untuk berkomunikasi secara langsung. Namun, sepanjang pengamatan gue walaupun mereka tidak berkomunikasi secara langsung tetapi mereka tetap berkomunikasi melalui media sosial seperti Intagram dan Facebook. Suatu hal lumrah dikalangan para pemuda-pemudi.

Oh iya perlu gue sampaikan, ketika rombongan kami berangkat ke Thailand Selatan ini kami belum memiliki visa. Ada beberapa alasan sih kenapa kami belum mengurus visa semasa di Indonesia, hal ini juga dialami oleh 5 perguruan tinggi lainnya. Di minggu kedua bulan Desember gue bersama kawan-kawan lainnya akan mengurus visa di kota Bharu Malaysia.

Setelah berkoordinir dengan para peserta lainnya pengurusan visa akan dilakukan selama dua hari. Karena lokasi kami yang berbeda-beda (Yala, Songkhla, Narathiwat, Pattani) maka ditentukanlah tempat pertemuannya disalah satu sekolah yang berada di provinsi Narathiwat (Sungai kolok).

Berangkatlah gue dengan kawan-kawan yang diwilayah Yala dengan menggunakan alat transportasi kereta api. Untuk sampai stasiun gue diantar oleh pihak sekolah yaitu Ust Ahmad.

Sampailah gue distasius kereta api Yala. Jarak antara stasiun ini dengan pondok gue sekitar 30 km. Cukup jauh memang, karena stasiun sendiri berlokasi di pusat kota Yala, sedangkan pondok gue bertempat di kampung Yalor.

Setelah sampai di stasiun gue pun berkumpul-kumpul dengan kawan-kawan lainnya dan berbagi kisah selama berada di sekolah masing-masing. Tetapi ada satu hal yang menyita perhatian gue. Sesosok perempuan, seingat gue waktu di hotel maupun di bus (pada awal keberangkatan) gue gak pernah melihat si doi, kok sekarang ada. Ok sampai di sini, perempuan ini menjadi penyita perhatian gue. Harus ditindak lanjuti haha.

Kami pun berangkat menuju Narathiwat bersama-sama. Setelah sampai di stasiun Sungai Kolok  kami kemudian dijemput oleh pihak Badan Alumni (panitian KKN-PPL). Kemudian kami beristirahat dan mendapat pengarahan tentang cara dan mekanisme pembuatan visa.

Yang tidak kalah penting dari pertemuan ini sosok perempuan yang menjadi tanda tanya gue di stasiun akhirnya menunjukkan titik terang. Ternyata doi merupakan mahasiswi dari IAIN Tulung Agung.

Keesokan harinya perjalanan kami lanjutkan dengan menggunakan bus menuju kota Bharu Malaysia. Dari Narathiwat menuju kota Bharu tidak memerlukan waktu yang lama, mengingat jaraknya antara wilayah yang berdekatan. Setelah mengurus administrasi di imigrasi sampailah kami di wilyah Malaysia. Bendera Malaysia berkibar-kibar disetiap titik kota.

Ternyata pembuatan visa saat itu mengalami beberapa masalah teknis dan akibatnya visa kami tidak dapat dibuat dibulan Desember dan harus mengurus kembali pada bulan Januari 2018. Sebagai gantinya kami pun diajak ke salah satu tempat perbelanjaan di Malaysia (Tesko) untuk membeli kebutuhan dan barang-barang lainnya.

Gue sendiri pada waktu itu membeli buku Hamka yang ditulis dengan bahasa Melayu, baju gamis (untuk shalat), parfum, alat cukur (rencananya untuk mencukur rambut siswa), dan bahan makanan lainnya. Setelah dirasa cukup berbelanja kami pun kembali ke tempat semula di Sungai Kolok dan kemudian kembali ke sekolah masing-masing, melanjutkan tugas kembali.

Sesampainya di pondok gue langsung mencoba alat cukur yang baru gue beli di Malaysia. Para pelajar laki-laki begitu antusias ingin mendapat layanan potong rambut dari gue (pengalaman di barbershop). Ternyata ada beberapa pelajar laki-laki yang juga pandai mencukur rambut, bahkan hanya dengan menggunakan gunting kertas. Saat itu gue merasa gak ada apa-apanya dibandingkan pelajar-pelajar ini dalam hal urusan potong rambut.

Tak berselang lama grup whatsapp begitu ramai membicarakan perkara tahun baruan. Pada saat pembuatan visa memang disampaikan ada undangan dari Konsulat Republik  Indonesia bagi para mahasiswa untuk malam tahun baruan di Konsulat tepatnya di provinsi Songkhla.

Sesuai undangan berangkatlah gue ke Konsulat dengan diantar Ust Ahmad lagi ke stasiun. 

Rencananya gue bersama kawan-kawan akan menuju Songkhla dengan menggunakan kereta api lagi. Karena beberapa hal, perjalanan ini kemudian dilanjutkan dengan transportasi lainnya yakni menggunakan van (mobil semi alphard). Dan sampai jualah akhirnya di Konsulat Republik Indonesia.

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar