DESEMBER 2017: PERKENALAN (2)

By Berbagi Ilmu - Juli 27, 2018


Banyak orang yang gak mengetahui bahwa gue ini merupakan orang yang suka kepo dan tukang stalker. Perlu diingat tidak semua hal gue kepoin dan gue stalk hehe. Setelah mengetahui sosok perempuan yang menyita perhatian gue ketika pembuatan visa (yang sempat gue singgung) gue langsung mencari sosial media doi. Gue pun menemukan Instagram dan Facebook doi. Nama doi sendiri adalah Melati (nama samaran). Tempat sekolah doi untuk program KKN-PPL ini satu wilayah dengan gue di Yala. Gue pun mengirimkan beberapa chat WA sebagai tanda perkenalan hehe.

Setelah sampai di Konsulat gue bersama kawan-kawan disambut oleh ibu Mamah dan suami. Ibu Mamah dan suami merupakan warga negara Indonesia (Tanggerang) yang bertugas menjadi staff di Konsulat Republik  Indonesia wilayah Songkhla.

Rencananya kami akan berada di Konsulat Republik Indonesia selama 2 hari yakni Sabtu dan Minggu (30-31 Desember 2017) dan tanggal 1 Januari 2018 kembali ke sekolah masing-masing.

Setelah menaruh tas dan beristirahat sejenak sembari menunggu kedatangan kawan-kawan lainnya, gue dan kawan-kawan bertanya ke ibu Mamah tentang objek wisata yang terdapat di wilayah Songkhla. Ibu Mamah kemudian menyampaikan tidak jauh dari Konsulat ini terdapat pantai (Samila) dan bukit (Tang Kuan Hill Top) yang cukup ditempuh dengan berjalan kaki.

Tak lama berselang kawan-kawan pun berdatangan. Beberapa mahasiswa/i dari perguruan tinggi lainnya yang berbeda program (bukan KKN-PPL) juga datang. Di antara rombongan yang datang gue melihat Melati juga datang. Tiba-tiba ada derik kecil di hati gue.

Sore harinya (30 Desember 2017) gue bersama kawan-kawan pergi ke pantai untuk menikmati senja. Nah di sinilah kisah gue dan Melati bermula. Entah kenapa Melati dan seorang lagi perempuan (gue lupa namanya) salah memilih mengambil belokan jalan, arah pantai seharusnya belok ke kanan, tetapi Melati malah mengambil belokan kiri dan terpisah dari rombongan. Dan entah kenapa juga si Melati menelpon gue  dan minta dijemput karena salah jalan (kan  gue jadi baper dan ke GR’n haha). Gue datang dan menjemput doi yang terpisah dari rombongan.

Setelah menemukan Melati yang terpisah dari rombongan, kami pun melanjutkkan perjalanan. Sepanjang perjalanan menuju pantai, gue mengeluarkan basa-basi serta obrolan-obrolan ringan yang berasal dari riset stalker gue hhaa. Tak cukup sampai di situ. Gue bersama Melati menikmati pantai sambil saling bergantian berfoto. That is momen sore yang sungguh mengesankan bagi gue (emang gue yang baperan sih haha). Gue berharap Melati juga merasakan hal yang sama haha.

Setelah puas menikmati pantai gue bersama rombongan kembali ke Konsulat. Petualangan dilanjutkan pada malam harinya mengunjungi pasar malam yang tidak jauh dari Konsulat. Di perjalanan menuju pasar malam, gue sempat berjalan bersama dengan Melati. Karena cukup menyita perhatian, Melati menjauh dari gue dan masuk ke rombongan (kampusnya) hhaha. Tak lama kemudian rombongan kami berpisah.

Suasana pasar malam itu begitu ramai pengunjung. Beberapa penjual asli (warga Thailand) menawarkan barang dagangannya menggunakan bahasa Thailand. Beberapa penyanyi juga menampilkan suara terbaiknya membawakan lagu berbasa Inggris dan lagu berbahasa Thailand.

Di pasar malam itu kami sedikit kesulitan menemukan makanan halal di kota ini. Mengingat kebanyakan penduduknya beragama Budha. Setelah bertanya sana-sini kami akhirnya menemukan juga sebuah tempat makan yang menjual makanan halal.

Minggu pagi esok harinya yaitu tanggal 31 Desember 2017 gue bersama rombongan dari kampus gue pergi ke bukit Tang Kuan Hill Top. Dengan membayar sekitar 20 bath gue bersama Essy, Ulfa, Khusnul, Sandi, Sapri, Jenong dan Bima pergi ke atas bukit dengan menggunakan lift. Ketika kami sampai, bukit masih belum terlalu ramai pengunjung, hal ini membuat kami leluasa untuk mengambil gambar.

Dari atas bukit kami menikmati pemandangan laut dan kota Songkhla yang indah. Di bukit ini juga terdapat tempat beribadah bagi warga beragama Budha. Dan yang tidak kalah menyita perhatian gue yaitu banyaknya gembok-gembok cinta ala drama korea  yang terdapat di atas bukit.

Setelah mendengar cerita kawan-kawan yang berkeliling kota Songkhla menggunakan tuk-tuk (alat  transportasi umum khas Thailand) dengan segala keseruannya. Sore harinya gue bersama Sandi, Sapri, Rini, Sakinah dan Zuma juga berkeliling kota sembari berkunjung ke tempat wisata yang terdapat di Songkhla. Tidak lupa kami singgah dan berfoto bersama.

Malam pergantian tahun pun tiba. Selepas shalat magrib berjamaah, kami menyiapkan tempat di untuk menyambut bapak Konsulat Republik Indonesia yang agendanya akan menyampaikan sambutan sekaligus bersilaturahim. Bapak Konsulat kemudian datang diikuti jajarannya. Setelah itu beliau menyampaikan sambutan dan pesan yang kami saksikan dengan cukup antusias.

Pesan yang disampaikan oleh pa Konsulat seingat gue berkenaan dengan kebersamaan dan semangat kebangsaan diantara kami semua yang berjumlah empat puluh enam orang ini. Memang tidak mudah menjalin kebersamaan diantara kami, mengingat kami yang belum pernah bertemu dan mengenal satu dengan lainnya.

Setelah acara sambutan dan penyampaian pesan oleh bapak Konsulat acara kemudian dilanjutkan dengan makan bakso bersama-sama. Sudah lama rasanya tidak merasakan masakan khas Indonesia di tanah dengan julukan seribu pagoda ini. Selebihnya kawan-kawan berfoto bersama dengan bapak Konsulat, selebihnya lagi asyik menonton dan bermain gadget dan update status.

Ada cerita unik sebenarnya mengenai salah satu teman gue yang akan berangkat menuju Konsulat ini. Jadi ceritanya doi ini hendak pergi ke Songkhla tetapi pihak sekolah tidak ada yang mengantar, alhasil teman gue ini memutuskan untuk pergi dengan berjalan kaki menuju salah satu sekolah tempat teman kami lainnya yang melaksanakan KKN-PPL. Rencananya mereka akan pergi bersama-sama menuju Konsulat.

Nah pada saat berjalan kaki inilah doi bertemu dengan askar (tentara Thailand) alhasil askar inilah yang mengantar doi sampai di sekolah tempat teman kami tersebut. Berita mengenai doi yang diamankan dan diantar askar ini begitu ramai menjadi perbincangan grup whatsapp. Tetapi sekali lagi pengalaman adalah guru terbaik. Dan teman gue sudah belajar banyak dari kejadian tersebut.

Malam tahun baru ini juga menjadi momen kami untuk saling berbagi kisah suka dan duka selama berada di sekolah masing-masing. Ada yang bercerita tentang tempat tinggal, ada yang bercerita tentang pengalaman pertama merasa masakan Thailand, ada juga yang bercerita tentang gajih yang terlambat dan berbagai kisah lainnya.

Malam semakin larut, jarum jam mulai mendekati angka 12. Bubuk mesiu beraneka ragam memberikan langit warna-warni yang indah diiringi suara petasan. Dibelahan bumi lainnya tahun telah berganti. 

Di tengah keramain tersebut gue memandang langit yang berhias dengan bintang-bintang seraya bertanya dalam hati, apa yang akan gue lakukan di tahun yang baru ini? Sejenak gue melihat mushola yang kosong. Gue kemudian memutuskan  masuk ke dalam untuk melaksanakan shalat sunnah mutlak (shalat sunnah yang dapat dilakukan kapanpun), tak lama kemudian terdengar suara ledakan petasan dan teriakan happy new year.


  • Share:

You Might Also Like

0 komentar