DARI OTOMOTIF KE TEKNIK SIPIL

By Berbagi Ilmu - Juli 09, 2018


Semua berawal ketika di jam istirahat penghujung masa sekolah SMK.

Amiril: Qm kuliah kh?
Gue: Belum tahu nah.
Amiril: Qm ngurus SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) kah?
Gue: Iih meurus.
Amiril: Baimbai am.
Gue: Oke

Setelah percakapan tersebut gue dan Amiril mengurus SNMPTN untuk masuk kuliah. Pada awalnya gue bingung mau ambil jurusan apa. Amiril sendiri merupakan teman gue di STM. Si doi di STM jurusan gambar bangunan.

Gue mau ambil jurusan Teknik Sipil kata Amiril. Jurusan Teknik Sipil itu seperti apa kata gue. Amiril menjelaskan bahwa jurusan tersebut terkait dengan pengerjaan transportasi, pembuatan rumah, intinya berhubungan dengan hal-hal yang berbau proyek (sarana dan prasarana transportasi, serta perumahan).

Kayanya keren juga pikir gue. Gue pun yang berasal dari anak otomotif berpindah kemudi menjadi anak teknik sipil.

Singkat cerita gue dan Amiril pun diterima di Universitas Negeri Palangka Raya (UPR) jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik (Tahun 2013). Kegiatan ospek pun berlangsung. Ada satu yel-yel yang terus gue ingat sampai hari ini.

Minggir donk-minggir donk, minggir donk anak teknik mau lewat, jangan di tengah jalan, nanti terinjak-injak, bisa jadi tampuyak (permentasi durian) dayak.

Hari-hari ospek kami lewati dengan begitu berat. Bangun pagi, masuk kuliah, lambat di hukum, mendengar kaka tingkat yang teriak-teriak. Hampir satu minggu kegiatan ospek pun selesai (walaupun sebenarnya tidak selesai sepenuhnya karena kegiatan ospek dihentikan oleh Dekan terkait per-peloncoan yang dilakukan oleh senior). Saatnya memasuki sistem perkuliahan.

Kuliah di teknik sipil membuat lo harus memiliki penggaris yang lengkap. Dari penggaris segitiga, penggaris panjang, busur, dan kawan-kawannya. Sejenak gue pun melupakan dunia perbengkelan. Yang awalnya megang kunci dan oli, berganti menjadi pegang pensil, drawing pen dan penggaris.

Hari-hari di teknik sipil membuat jam tidur lo random, gue yang biasanya tidur jam 10 malam menjadi tidur minimal jam 12 malam. Semua ini berkat tugas besar dan tugas kecil yang harus diselesaikan dengan tenggang waktu yang singkat.

Alhasil pada saat masuk kelas gue yang belum terbiasa dengan jam tidur malam menjadi begitu mengantuk. Tak terasa satu semester telah berjalan, hasil studi pun keluar. IPK gue nyangkut di bawah 2,5. Hijrah dari teknik otomotif  ke teknik sipil itu berat, mungkin sama beratnya dengan hijrah Nabi dari Mekah ke Madinah.

Semua gue pelajari dari awal bahkan dari nol, berbeda dengan teman gue Amiril yang sudah punya basic di STM sesuai jurusannya. Semester dua pun berlanjut. Gue memutuskan untuk lebih giat lagi belajar.

Namun, Uang Kuliah Tunggal (UKT) sistem pembayaran biaya kuliah berdasarkan penghasilan orang tua, membuat gue harus membayar biaya kuliah di angka 4 jt per semester. Hal ini menambah beban bagi gue, bukan hanya beban belajar tapi juga beban ekonomi keluarga.

Akhirnya setelah menimbang baik buruknya, gue memutuskan drop out dari teknik sipil. Cukup sampai semester dua. Hal sama juga menimpa Amiril, doi juga drop out. Kami berdua kemudian kembali mendaftar dan menjadi mahasiswa baru di Universitas Muhammadiyah Palangkaraya. 

Amiril tetap mengambil jurusan teknik sipil sementara gue mengubah haluan kembali, gue memillih jurusan Pendidikan Agama Islam.

Bagaimana kelanjutan ceritanya, next akan gue bagi cerita gue di program studi yang baru :D



  • Share:

You Might Also Like

0 komentar