CINTA, BERAS DAN PISANG

By Berbagi Ilmu - Juli 01, 2018


Junaidi datang menggunakan sepeda ontel. Di belakangnya tergantung sekarung beras dengan berat 5 kg, serta setangkai pisang.

Beras itu beli di warung pa De, dan pisang itu ia dapat dari belakang kebun rumah milik orang tuanya dulu.

Junaidi sudah lama tidak pulang ke kampung, kesibukannya di kota membuat ia lupa sejenak dengan semua  hiruk pikuk kampung.

Adapun sepeda itu adalah miliknya semasa sekolah menengah atas dulu. Sepeda itu terawat dengan baik. Sepeda yang tangguh tak lekang oleh waktu.

Tujuannya kini adalah rumah Maimunah. Seorang janda kampung  yang dulu menjadi bunga kampung.

Perjalanan dengan sepeda ini terasa begitu berat baginya. Bukan karena tubuhnya yang mulai membesar atau barang bawaannya melainkan karena sebuah rasa. Rasa yang aneh untuk seorang yang lama ditinggal pergi istri.

Perjalan itu terasa begitu lama. Sebenarnya ia hanya perlu sekitar 10 menit untuk sampai, namun karena melihat pintu rumah yang tertutup itu, ia lantas memutar. Dan satu putaran kampung telah ia khatamkan.

Adalah warung kopi milik bu Yono tempatnya kini berteduh, sekalian bertanya-tanya layaknya seoarang wartawan yang sedang menggali informasi dan data.

Bu Yono adalah orang tua yang tidak terlalu suka bicara, hanya sesekali ia menjawab pertanyaan Junaidi. Junaidi perlu memikirkan alternatif lain. Ia terus bertanya tentang keadaan desa, seraya mencari bahan pembicaraan yang disukai oleh Bu Yono.

Kebetulan pada saat itu musim rambutan maka Junaidi merasa mendapat bahan pembicaraan yang pas. Kebetulan di warung itu terdapat banyak sekali rambutan.

Junaidi berpikir, bagaimana seandainya ia memborong semua rambutan itu,, apakah sikap Bu Yono masih diam layaknya tadi.

Dan tepat dugaan Junaidi setelah memborong semua rambutan itu, Bu Yono berubah drastis. Tidak ada lagi senyum simpul, yang ada senyum tajam setajam pisau.

Dengan sedikit basa basi itu meluncurlah semua data dan informasi yang diperlukan oleh junaidi.
Ia kini mengetahui bahwa banyak lelaki yang sudah mendekati Maimunah namun semua kembali tanpa hasil, nihil bagai nelayan yang pulang melaut tak mendapatkan seekor ikan pun.

Dari Bu Yono juga ia mengetahui bahwa Maimunah menghidupi kedua anaknya dengan mengandalkan uang pensiunan mendiang suaminya.

Dari  Bu Yono pula ia mengetahui bahwa suami Maimunah adalah mantan kepala desa. Usia yang terpaut jauh itu membuat sang suami pergi lebih dahulu. Walaupun tidak ada kepastian sebenarnya tentang jatah hidup seseorang namun, hal itu juga berlaku pada Junaidi, istrinya yang lebih muda, pergi lebih dahulu, meninggalkan Junaidi dalam kenestapaan.

Adalah bujuk sang ibu yang membuat Junaidi tertarik untuk menyambung tali dengan janda beranak dua tersebut. Sebelumnya tidak ada niatan sama sekali yang terlintas di kepala Junaidi.
Mungkin karena sang ibu melihat Junaidi terlalu lama sendirilah yang membuat ia merekomendasikan janda tersebut.

Junaidi dengan Maimunah bukan tidak pernah bertemu, mereka bahkan menyimpan sesuatu, namun itu lama sekali berlalu. Orang-orang menyebutnya dengan cinta monyet.

Apakah cinta monyet itu masih berlaku di jaman mereka saat ini? entahlah yang pasti Junaidi merasa yakin, ditambah dengan kemapanan hidupnya saat ini, mudah saja kelihatannya.

Rambutan itu lantas ia berikan pada anak-anak yang sedang bermain, anak-anak nampak tak begitu antusias, mengingat kampung itu penuh dengan pohon rambutan, sebuah usaha yang sebanding dengan informasi yang didapatkan oleh Junaidi.

Junaidi memberanikan diri mengetuk pintu itu, ia disambut oleh seorang anak perempuan. Dengan basa-basi ala kadarnya perempuan tersebut mempersilahkan Junaidi masuk.

Sesaat kemudian ia memanggil ibunya. Sang ibu nampak kebingungan melihat pemandangan yang baru di ruang tamunya.

Ruang tamu itu tidak terlalu besar, ada foto-foto, kursi kayu, dan meja kaca yang pecah dan di rekatkan dengan lakban. Taplak mejanya terdiri dari kain dengan motif bunga-bunga.

Junaidi menyalami perempuan itu, ia nampak cantik dengan terusan baju tersebut. Rambut yang terurai dan tatapan mata yang penuh selidik.

Basa-basi pun berlanjut, junaidi memutar kembali kisah lama yang terjadi saat mereka msih duduk di bangku sekolah menengah atas. Junaidi nampak canggung, namun ternyata maimunah adalah orang yang asyik diajak bercanda.

Beberapa bahan candaan mereka waktu sma yang receh menggema di ruang tamu itu. Maimunah tertawa lepas, sudah lama ia tak tertawa seperti itu. Mereka lalu membahasa kenangan-kenangan, pada saat perpisahan kelas, ketika maimunah di tembak cinta.

Lalu mereka pada jadian, padahal semua itu adalah ide junaidi yang menyuruh soeprapto yang menembak dengan puisi, dan yang mengarang puisi itu junaidi.

Lalu junaidi membawakan puisi itu lagi, maimunah terkejut, namum ia tak mengetahui bahwa junaidi sang penulis aslinya.

Selesai mengingat-ingat momen itu, Maimunah menanyakan perihal kedatangan Junaidi.

Dengan nampak canggung jainudi menjelaskan maksud dan tujuannya tersebut.

Belum sempat menyampaikan anak perempuan maimunah datang membawa secangkir kopi.

Maimunah lalu menjelaskan kepada anak perempuannya siapa junaidi tersebut.

Anak perempuan itu baru duduk di kelas satu SMP sedangkan adiknya masih kelas 5 sd.

Junaidi pun meminum kopi tersebut, namun kopi tersebut terasa aneh, asin, namun junaidi tidak menampakkan ekspresi yang mencurigakan, ia meminum perlahan-lahan, rasa yang aneh.

Namun sebelum itu ia sudah mengetahui perihal tersebut dari informasi yang didapatkan dari Bu Yono, bahwa anak perempuan tersebut memang bertingkah seperti itu, ujian pertama dari sambutan.
Dan banyak para pria yang gagal terhadap ujian tersebut, mungkin junaidi lah yang mampu menghabiskan kopi tersebut. Sementara pria lainnya tak mampu menghabiskannya.

Setelah selesai bercakap-cakap Junaidi undur diri, namun ia tak menduga akan mendapat undangan makan siang besok hari.

Junaidi harus mempersiapkan diri menghadapi ujian kedua. Ujian makananan mampukah junaidi melewati berbagai ujian tersebut?

Esok hari pun tiba Junaidi telah datang dengan perasaan bercampur aduk, kira-kira makanan apa yang akan tersaji di hadapannya.

Dan ketika saat makan tiba, tidak terjadi apa-apa rasanya enak, semua habis dilahap oleh Junaidi.
Maimunah berterima kasih karena junaidi bersedia menghadiri undangan tersebut.

Dan maimunah bertanya kapan junaidi akan kerumah lagi, dengan keluarga lengkap?

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar