BELAJAR DI BARBERSHOP

By Berbagi Ilmu - Juli 17, 2018


Perkenalan gue dengan Andi berawal ketika gue potong rambut di barber miliknya. Setelah kenal dan akrab gue jadi sering nongkrong di tempat Andi, nogkrong aja potong rambutnya kaga hehe. Tak berselang lama Andi lantas mengajak gue untuk join di barber milik doi.

Bisnis barbershop memang lagi naik daun beberapa tahun terakhir. Pangkas rambut kekinianlah istilahnya. Sebagai seorang rantau (dari Banjarmasin tepatnya di kota Batu licin). Andi sempat beberapa kali ganti pekerjaan.

Bosan bekerja ikut orang lain, terlintaslah dibenak Andi untuk membuat usaha sendiri. Akhirnya ia memutuskan peruntungan di bisnis yang bisa dikatakan baru baginya. Dengan bantuan kios dari mertuanya Andi lantas mulai membuka usaha pangkas rambut.

Sebenarnya gak ada terlintas sedikit pun dibenak gue untuk menjalani profesi itu. Boro-boro jadi tukang pangkas rambut, gue ke pangkas rambut untuk potong rambut aja angin-anginan. Namun, melihat peluang usaha yang menjanjikan ini gue pun tergoda dan memutuskan join di barber milik Andi.

Gue yang gak punya basic apaa-apa tentang pangkas rambut, lantas belajar di internet dan sesekali menonton video di youtube tentang barbershop. Sebagai “kelinci percobaan atau model untuk jadi objek pangkas rambut” gue dan Andi meminta bantuan dari anak-anak yang biasanya bermain bola di sekitar tempat pangkas rambut Andi.

Karena bertepatan dengan bulan Ramadhan (tahun 2017) anak-anak sering keluar pada waktu malam (selepas tarawih). Andi pun memutuskan untuk meminta dua anak setiap malam untuk dijadikan model pangkas rambut. Anak-anak yang tidak mengetahui akan dijadikan “kelinci percobaan” berbondong-bondong datang dan ingin menjadi model pangkas rambut (alasannya karena ingin pangkas rambut gratis) -_-.

Keterampilan gue dalam memangkas rambut terus menunjukkan peningkatan, hasil gajih yang gue dapat dari Kalteng Pos (pada saat itu masih bekerja di Kalteng Pos) gue sisihkan sebagian untuk membeli alat cukur sendiri, mulai dari clipper, gunting dan peralatan lainnya.

Hampir sebulan kira-kira lamanya gue berlatih memangkas rambut. Setelah dirasa cukup, gue pun memutuskan menangani pelanggan yang lebih dewasa tentu masih dalam pengawasan Andi. Gue juga sempat mengundang Yuta untuk di jadikan model pangkas rambut, beruntung doi setuju untuk gue jadikan bahan praktek.

Memangkas rambut tak semudah yang gue lihat dalam video-video di Youtube. Perlu skill dan pemahaman lebih tentang pangkas-memangkas, bentuk kepala, bentuk wajah, tekstur rambut (lurus atau bergelombang), tebal-tipisnya rambut juga menentukan gaya rambut seseorang.

Bahkan ada beberapa pelanggan yang meminta model rambut yang sebenarnya tidak cocok dengan bentuk kepala serta bentuk muka pelanggan tersebut. Sebagai seorang pemangkas yang profesional Andi selalu mengajarkan bagaimana caranya seorang pemangkas berdiskusi terlebih dahulu dengan pelanggan sebelum rambutnya dipotong.

Selain belajar dari internet, youtube, hingga praktek langsung, gue juga melakukan studi tur dibeberapa barbershop kompetitor yakni dengan menyamar sebagai pelanggan tentunya. Sebagai pelengkap penyamaran, gue pun bertanya-tanya (kepo) tentang istilah-istilah dalam dunia barbershop sembari melihat teknik-teknik yang mereka gunakan untuk memangkas rambut.

Dari studi tur tersebut gue memahami lagi tentang jasa potong rambut hingga perbandingan harga yang diterapkan oleh para kompetitor. Sebagai sebuah bisnis jasa layanan, kepuasan pelanggan menjadi nomor satu yang tidak dapat ditawar-tawar.

Sebagai seorang yang baru belajar, gue pun tidak luput dari kesalahan. Beberapa pelanggan bahkan ada yang sempat marah-marah karena model yang diekpektasikannya berbeda dengan realitas yang ia lihat dalam cermin.

Bukan hanya salah model (gaya rambut) gue juga pernah melakukan kesalahan yang  bisa di katakan cukup fatal, yakni membuat luka berdarah (karena teknik memegang silet yang salah) pada kulit kepala pelanggan, beruntung pelanggan tersebut mafhum dengan kesalahan yang gue buat. Sebagai ganti rugi kesalahan tersebut Andi lantas memberikan diskon sekaligus ungkapan permintaan maaf.

Dari kesalahan-kesalahan tersebut gue jadi lebih berhati-hati lagi ketika memangkas rambut pelanggan. Kalau dalam istilahnya kerennya “No pain, no gain.” Kalau lo gak melakukan kesalahan lo gak akan naik ke level yang lebih tinggi. Kesalahan merupakan hal lumrah dalam suatu proses belajar.

Namun sekali lagi, pengalaman kerja di barbershop ini gak berlangsung lama, Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) dan KKN (Thailand Selatan) membuat gue harus resign dan keluar dari dunia barber ini, semua peralatan cukur gue kemudian gue jual ke Andi untuk biaya keberangkatan ke Thailand Selatan.


  • Share:

You Might Also Like

0 komentar