ZONA WAKTU

By Berbagi Ilmu - Mei 19, 2018


Hai, nama gue Bowo. Nama lengkap gue Bowo Aja.

Gue mau cerita tentang tiga teman gue dan tentang zona waktu dan tentang genk MAPALA kami. Mahasiswa Paling Lama. Dan kami punya alasan masing-masing kenapa kami layak berada di Mapala. So! Selamat membaca, gue harap lo suka, kalau gak suka lo boleh komplen ke penulisnya.

Syarat bergabung di tim MAPALA adalah mahasiswa diatas semester 9, walaupun gak tua-tua amat untuk lo, tapi buat kami yang menjalani, itu lama. Satu semester lagi, waktu kami sama dengan masa jabatan presiden 1 periode. Btw kalau lo sudah di semester 8 dan berencana mau gabung di MAPALA mohon maaf gue harus bilang, kami gak menerima anggota baru.

Perempuan satu-satunya, entah apa yang membuat dia bergabung bersama tim MAPALA kami. Gue curiga dia kena pelet oleh Budi Ya Elah. Kami menamainya Rini Si Galau, sebenarnya nama aslinya adalah Rini Naionalisme Negoro, nasionalisme bangetzz orang tuanya ngasih nama. Lantas bagaimana asal mula nama galau itu menjadi marga.

Rini adalah mahasiswi Fakultas Hukum jurusan Hukum Pidana. Saat ini ia mahasiswi semester 9,5. Bukan karena ia kurang paham penjelasan dosen, atau sering bolos kuliah, alasannya cukup aneh, ia ingin menikmati hari-harinya sebagai mahasiswi, serta menikmati proses pembuatan skripsi, teman-teman seangkatannya lulus cepat dia sendiri yang lama. Alasan lainnya, masa kuliah itu cuman sekali, jadi nikmati aja prosesnya. Gue semakin curiga ia kena pelet, pelet tingkat akhir.

Anggota kedua, adalah Budi Ya Elah. Arjuna asli kampung doelo, beliau  ini adalah pengusaha muda, dan juga seorang penulis. Penulis skripsi. Sejak kecil ia sudah diajarkan oleh orang tuanya untuk berbisnis, mulai SD sudah jualan permen, jualan es, hingga jualan kunci jawaban, maka gk salah deh kalau sekarang ia melihat peluang yang begitu menggiurkan, bisnis jasa penulisan skripsi. Saking semangatnya bisnis jasa penulisan skripsi, skripsinya sendiri, sampai sekarang masih di awang-awang.

Gelar Ya Elah adalah gelar yang ia peroleh ketika setiap kali bicara. “Ya Elah, itu mah gampang, cukup bayar DP, seminggu proposal lu kelar, Ya Elah, judul lo sih terlalu biasa, ganti yang lebih berbobot yang pakai istilah asing, kalau gak lu pakai deh bahasa daerah.” “Ya Elah, sulit amat rumusan masalah lo” dan “Ya Elah” lainnya. 

Satu hal yang gue kagum dari Budi Ya Elah, profesionalme nya mengalahkan pegawai-pegawai atau konsultan-konsultan lainnya. Setiap skripsi yang dikerjakan selalu ‘ada hitam di atas putih’ alias ada surat perjanjian, materai, hingga pakai notaris.  Sampai saat ini, Budi sudah mengerjakan selusin skripsi, dan semua aman terkendali.

Personel ketiga. Dodo Takdir. Dari semua anggota yang santai menikmati hari-hari tuanya sebagai mahasiswa lama. Dodo adalah pengecualian. Ia adalah satu-satunya anggota yang sangat semangat untuk cepat selesai kuliah. Namun takdir berkata lain. Sudah lima dosen pembimbing yang silih berganti, mewarnai skripsinya.

Dosen pertama, pergi ke Rusia, menikmati masa pensiun. Dosen kedua, pergi ke Amerika, beasiswa Doktor. Dosen ketiga, pergi ke Singapura, berobat. Dosen keempat, cuti menikah lagi. Dosen kelima pergi liburan tiga benua, 100 kota, (itu liburan apa ikut acara traveling).

Dan gue sendiri. Sampai saat ini gue gak mikirin masalah wisuda, karena niat gue kuliah adalah untuk cari ilmu, bukan gelar, apalagi buat cari pekerjaan. So gue gak terlalu sedih kalau suatu hari nanti kena Drop Out. Masalahnya, bagaimana menjelaskan ini semua ke bokap, nyokap, calon bini hingga  mertua gue. This is so hard dude.
--

Gue, Rini dan Bowo siang ini makan bakso di warung bakso Paijo. Bakso-nya sih kaya rasa bakso, cuman WiFi-nya unlimited. Maka kami memutuskan setiap ngumpul pasti di tempat ini. kami adalah penikmat WiFi forever. Lagi asyik nikmatin WiFi. Dodo datang, tanpa diminta, tanpa disuruh, tanpa dibayar, dan tanpa basa-basi langsung bicara.

 “Gue gak setuju sama yang diucapin Pa Susilo.”

“Dia bilang sukseslah semuda mungkin.”

“Bill Gates aja sukses di usia berapa?”

 “Obama jadi presiden umur berapa?”

“Donald Trump jadi presiden usia berapa?”

“Gusti  baru nikah 3 tahun sekarang punya anak 2.”

“Parmin nikah 15 tahun lebih masih berdua aja sama istrinya”

“Joko nembak Bunga 10 kali ditolak semua!”

“Romeo nembak Bunga 1 kali langsung diterima.”

“Si Dodit  lulus kuliah tercepat dengan IPK 4,5 sekarang masih nganggur!"

“Si Eko lulus hampir 7 tahun+nyaris drop out+ IPK 2 setengah, lulus, langsung kerja di luar negeri.”

“Si Joko lulusan Magister Ekonomi Bisnis, sekarang jadi admin bank!”

“Si Tejo lulus SMA kerja jadi Manager Perbankan.”

“Bumi tetap berotasi selama 24 Jam sehari.”

“Merkurius berotasi selama..... gue lupa, yang pasti dia berotasi juga.”

“Siang tetap sama dengan malam waktunya.”

“Rudi meninggal usia 25 tahun.”

“Kakek gue masih hidup umur 70 tahun.”

“New york lebih cepat 3 jam dari California.”

“Papua lebih lambat atau cepat dari Jakarta, gue juga lupa.”

 “Tuhan punya rencana yang berbeda untuk tiap-tiap orang. Jangan iri, berada dan berlarilah sesuai zona waktu.”

Dodo terdiam sesaat. Napasnya naik turun, tarikan oksigen dari hidungnya lumayan deras. Bola matanya nampak hitam, masih ada putih dikit, , telinganya seperti kelelawar menangkap suara sepertinya Dodo sedang ber-ekolokasi.

“Lu kesambet setan motivasi Do.” Kata Budi.

“Iya, tumben bicara panjang amat.” Sambut gue.

“Sabar Do, minum dulu.” Rini mempersilahkan.

Dodo dengan napas menggebu-gebu menuntum habis segelas teh es yang mulai hambar.

“Ya Elah, itu minuman gue kutu liar.”

“Haha, capekkan jadi motivator, sampe kehausan.” Sambung Rini.

“Gue sebel tadi pas mata kuliah Bisnis Online, dia bilang sukseslah semuda mungkin, jangan ikuti Dodo takdir, masa gue dijadikan tolak ukur kesuksesan.”

“Tapi emang bener juga sih, kata pa Susilo haha.”

“Bowo, lu punya hubungan kekerabatan apa sama dia, gue bayarin bakso lu, nyesel lu.” Dodo menjawab dengan cepat, tanpa dipersilahkan.

“Terus lo jawab apa tadi waktu pa Susilo bilang begitu.” Budi angkat suara.

“Gue diam aja di kelas, pas keluar kelas baru gue nemu jawabannya.”

“Teruss?”

“Yang tadi gue bilang, semua orang punya zona waktu” Dodo nampak kesal, sambil sesekali melirik teh es Rini yang nampak menggiurkan.

“Buset  lo masih haus?” Sebagai seorang teman Rini memahami situasi tersebut.

“Sini teh es lo.”

“Terus gimana kelanjutannya Do?”

“Gini ya gue kasih tahu.”

“Tempe gak ada Do?” sambung gue.

“Lo ada masalah sama gue Wo.”

“Bercanda Do.”

“Awas tu pa Susilo. Semua orang kan punya takdir masing-masing, punya kisah hidup masing-masing, kenapa coba masih suka banding-bandingin si A sama si B. Massa kisah hidup lo Rin, sama dengan kisah hidup Si Mawar, kan enggak.”

“Mawar yang mana Do?” Sambung Rini.

“Dengerin sampe gue selesai sapi betina!” Jawab Dodo kesal

“Sama seperti yang gue bilang tadi, Tuhan punya rencana yang berbeda untuk tiap-tiap orang. Jangan iri, berada dan berlarilah sesuai zona waktu, toh gue yang gak lulus sudah ganti dosen pembimbing lima kali tetap santai aja, walaupun kadang nyesek juga, tapi mana gue tahu kan takdir ke depan, bisa aja nanti gue lulus, langsung jadi Camat atau Bupati.”

“Gue paham maksud lo Do, anggap aja itu cobaan, menguji cara pandang hidup lo, terbuktikan lo paham zona waktu tadi, walaupun gue sebenarnya tau, lo nyontek dari youtube masalah zona waktu barusan.”

“Gue kepret lo Bowo.”

Dodo Takdir nampak sekarang sudah mulai tenang dan bisa mengatur emosi. Lubang hidungnya sudah normal, menandakan jumlah tarikan oksigen sudah mulai teratur. Sampai tiba-tiba, kami bertiga menyadari sosok itu kecuali Dodo (yang masih terbawa angin emosi, padahal sudah dua gelas teh es habis), sosok yang berkacamata, kumis tebal, senyum tipis, itu sedang membawa semangkok bakso sambil mencari-cari tempat kosong. 

Gue lupa kasih tahu, bakso Paijo ini laris manis, karena baksonya dicampur WiFi. Walaupun sudah selesai makan, para pemuja WiFi bisa tahan berjam-jam duduk. Dasar generasi WiFi.

Pa Susilo pun berjalan mendekati kami. Lantas kami bertiga pun dengan kode mata, langsung berdiri dan mempersilahkan Pa Susilo duduk.

“Silahkan Pa.”

“Di sini masih kosong kursinya.”

“Iya pa masih kosong.”

Dodo yang tidak menduga kejadian singkat itu, nampak terkejut. Lubang hidungnya nampak membesar, matanya melotot, dan keringat dingin mulai bercucuran. Sementara itu Pa Susilo menaruh mangkuk bakso, dan duduk.

“Pa kami bertiga permisi dulu, ada mata kuliah lagi hehe.”

“Iya pa.”

“Oh iya Pa, tadi Dodo mau ngobrol sama Bapak.”

“Oh ya, mau ngobrol apa Do?” Jawab Pa Susilo, serasa menuangkan kecap di mangkok baksonya.

“Mau ngobrol masalah Zona Waktu pa.” Jawab  Rini.

“Iyakan Do?”

“Dasar sapi betina!!!!” Gumam Dodo dengan mata melotot.

“Assalamualaikum PA” 

Kami bertiga pamit, meninggalkan dua pria yang entahlah bagaimana kelanjutannya. 

Kami berharap sih Pa Susilo menjadi dosen pembimbing ‘Dodo Takdir’ yang keenam.

Selesai.






  • Share:

You Might Also Like

0 komentar