SANTI PUTRI DANDANG TINGANG

By Berbagi Ilmu - Mei 24, 2018


“Terimakasih Dok.”

Ucapan itu diiringi sepotong senyum tipis. Santi lalu menjulurkan tangan kanannya disambut tangan kanan lelaki itu. Ada getar di hati Santi saat tangannya bersentuhan dengan dokter muda nan ganteng itu. Terlihat di tanda pengenalnya terpampang nama Surya.

Diperjalanannya menuju tempat pengambilan obat, benaknya terus terbayang-bayang mengenai apa yang baru saja ia dengarkan.

Gedung putih itu membuat apa yang selama ini tak ingin ia dengar, akhirnya terdengar. Terakhir kali pergi ke gedung serba putih tersebut, manakala ia menjenguk Rukayah teman satu kampusnya yang terkena diare.

“Anda harus banyak-banyak beristirahat, jangan terlalu banyak kegiatan dan aktivitas.”

“Emangnya saya sakit apa dok? Kata santi dengan penuh selidik.

Melihat pasiennya yang masih begitu muda, tidak tega rasanya Surya menyampaikan hal tersebut. Ia takut jika tiba-tiba sang pasien pingsan atau terguncang batinnya. Namun, sebagai seorang yang profesional ia harus menyampaikan hal tersebut. Dengan tarikan napas dan tatapan serius, Surya menyampaikannya.

“Ini adalah gejala Talasemia, masih tahap awal, untunglah Anda cepat berobat.”

“Apa? Amnesia?”

“Bukan Amnesia! Tapi Talasemia!!”

“Talasemia?” Santi baru mendengar nama penyakit itu. Bahkan seingatnya waktu belajar dulu, tak ada sedikitpun kata itu ia dengar. Di televisi sekalipun ia tak pernah menyaksikan siaran atau program TV, atau iklan obat tentang penyakit itu.”

Dokter Surya lantas menjelaskan penyakit tersebut. 

“Talasemia adalah kelainan darah dimana tubuh tidak mampu memproduksi cukup hemoglobin hal ini  mengakibatkan jumlah hemoglobin di dalam tubuh sedikit.”

Dokter Surya menyetop penjelasannya, ia kemudian bertanya kepada Santi.

“Kamu tahu apa itu hemoglobin?”

Tanpa diduga sebelumnya Santi tersentak mendengar pertanyaan tersebut. Ia mengingat materi pelajaran yang pernah ia dapat semasa sekolah, “Dulu guru biologi saya pernah membahas itu dok, namun saya lupa” jawabnya sekenanya saja.

Baik saya lanjutkan jawab Surya.

“Jadi, Hemoglobin itu adalah protein pembentuk sel darah merah yang berguna mengikat oksigen dan membawanya ke seluruh tubuh. Saat tubuh kekurangan hemoglobin, sel darah merah tidak bisa berfungsi dengan baik dan hanya dapat hidup untuk waktu yang pendek.”

“Jadi, maksud dokter umur saya tidak lama lagi?” Mendengar penjelasan tersebut membuat Santi cemas, raut wajahnya nampak menjadi bingung.

“Bukan seperti itu maksudnya, bukan umurmu yang pendek tapi umur sel darah merah yang pendek tidak sesuai dengan umur sel darah pada umumnya.”

“Oooh, begitu dok hehe.” Kata Santi diiringi senyum tipis.

Dokter Surya menjelaskan hal itu dengan penjelasan yang cukup panjang. Santi merasa ia sedang berada dalam mata kuliah ilmu kedokteran. Bedanya ia sendiri yang menjadi subjek penjelasan tersebut.

“Ini saya buatkan resep obat untuk sementara, nanti kamu ambil di ruang pengambilan obat, tenang saja, penyakit kamu belum cukup parah,” tutur Surya sembari mencatat nama-nama obat dalam kertas kecil yang telah disiapkan sebelumnya.

Memang beberapa hari ini Santi kerap merasa lemah, bahkan merasa pusing yang begitu melilit kepalanya, seperti hendak meledak. Biasanya ia akan mengonsumsi obat sakit kepala atau istirahat yang cukup. Namun sudah tiga hari ini ia merasakan tidak ada perubahan apapun dari dalam tubuhnya. Dan atas usul temannya pula ia memberanikan diri berkunjung ke Rumah Sakit itu. Di kursi panjang itu Santi duduk menunggu antrian bersama para pasien lainnya.

“Atas nama Santi!!”

“Atas nama Santi!!”

Seorang apoteker perempuan memanggil nama itu.

“Iya saya sendiri, jawab Santi seraya menuju ke bilik kaca yang bertuliskan tempat pengambilan obat.”

“Di minum sesudah makan dan ikuti instruksi yang ada disetiap obat ya mba.”

“Iya terimakasih,” Jawab santi disertai senyum samar.

Santi kemudian menuju kasir dan membayar obat-obat tersebut. Beberapa obat tersebut terdiri dari kapsul, tablet beraneka warna, ada yang putih, kuning, serta hijau. Melihatnya saja Santi sudah mual duluan.
--

Gegap gempita persiapan acara itu membuat Santi dan para tim tari dari Sanggar Isen Mulang mulai bergegas. Mereka disibukkan dengan menyiapkan properti tari, mengemas alat-alat musik, hingga persiapan lainnya. Waktu yang mereka lakukan untuk persiapan tersisa 2X24 jam, alias tersisa dua hari. Sanggar tari Isen Mulang mendapatkan undangan untuk menjadi peserta even Indegenous Celebration di Bali.

Santi mulai ikut sanggar tari Isen Mulang sekitar 2 tahun yang lalu. Sebelumnya ia bergabung bersama sanggar tari Human Betang, sejak SD Santi telah menyukai dunia tari. Semua berawal ketika ibunya pergi ke sanggar untuk mengantar sang kakak, namun ternyata yang memiliki ketertarikan ke dunia tari malah Santi bukannya sang kakak.

Sejak pindah ke kota untuk melanjutkan belajar di perguruan tinggi Santi bergabung bersama sanggar tari Isen Mulang. Sanggar tersebut didirikan oleh Kak Mira bersama sang suami. Kecintaan pada dunia seni musik dan tari memutuskan mereka membentuk sebuah sanggar tari. Sebuah tempat di mana para anak-anak hingga remaja dapat mengekspresikan diri mereka sesuai minatnya.

Beberapa event besar dan kecil telah Santi ikuti, namun bersama sanggar tari Isen Mulang ini setidaknya ada dua event besar yang mereka lewatkan. Event pertama adalah Yogya Culture Festival yang diadakan di kota Jogjakarta, dan kedua adalah Solo Culture Sumit yang dilaksanakan di kota solo. Beberapa even kecil lainnya yakni saat perayaan budaya daerah di kabupaten, kecamatan, hingga desa.

Event kali ini akan dilaksanakan di pulau dewata Bali. Sebuah event berskala internasional yakni Indegenous Celebration. Event ini akan diadakan selama tiga hari. Pesertanya berasal dari berbagai wilayah di bumi nusantara, bahkan ada beberapa turis mancanegara yang berpartipasi dalam acara ini.

Anak-anak sanggar nampak antusias menerima kesempatan tersebut. Inilah kesempatan mereka menunjukkan pada dunia tentang potensi yang mereka miliki. Anak-anak sanggar tersebut berasal dari berbagai tingkat jenjang pendidikan, ada yang masih duduk di bangku sekolah dasar, menengah pertama, menengah atas hingga perguruan tinggi.

Dalam pergelaran kali ini Santi mendapat sebuah kesempatan untuk  menarikan sebuah tari tradisional yang sudah lama menjadi obsesinya. Tari itu bernama tari Dandang Tingang.

Latihan demi latihan dilakukan oleh Santi. Begitu pula para pemusik. Mereka biasanya berlatih selama satu jam dalam sehari. Latihan ini bertujuan untuk memberikan hasil yang terbaik.

Tari dandang tingang adalah jenis tarian gembira yang ditarikan oleh perempuan. Dandang artinya bulu ekor burung enggang yang panjang dan Tingang berarti burung Enggang. Sang penari memegang tongkat yang pada setiap ujung tongkat yang ditancapkan bulu ekor burung Enggang.

Tari ini berasal dari daerah Kabupaten Kapuas Kalimantan Tengah, diadakan pada waktu mendirikan tiang-tiang ulin untuk benteng pertahanan juga pada waktu masyarakat di desa secara gotong royong mendirikan Jihi Busu yaitu tiang pertama Rumah Betang yang terbuat dari kayu pilihan dan letaknya di bagian dalam bangunan rumah tersebut.

--

Hari keberangkatanpun tiba, rombongan ini akan bertolak ke Bali menggunakan transportasi udara setelah transit terlebih dahulu di Surabaya, lalu dilanjutkan dengan menggunakan bus dari bandara Denpasar Bali ke home stay, tempat tinggal mereka selama berada di sana.

Hari yang dinanti-nanti akhirnya tiba. Semua sudah bersiap dengan berbagai rangkaian kegiatan yang akan digelar. Mulai dari sambutan-sambutan hingga acara pembuka, semua berjalan dengan baik.

Tata panggung dibuat dengan begitu megah serta penataan yang meriah, tak lupa juga pencahayaan atau lightening yang mentereng membuat semua mata yang memandangnya terpana.

Santi nampak cantik dengan gaun tersebut. Pada gaunnya terdapat lukisan pohon batang garing. Yang berarti pohon kehidupan. Gaun tersebut nampak serasi dengan tubuh Santi yang semampai. Warna perpaduan hitam dan hijau. Bermahkotakan paruh dan bulu burung enggang.

Busana ini memang dibuat khusus untuk Santi. Busana ini menjadi busana terbaik yang pernah Ka Mira buat.

Waktu penampilan pun tiba. Santi akan tampil setelah pertunjukan tari Dedes dan tari Mandau. Musik garantung, kecapi, dan katambung bergema dipanggung nan megah tersebut. Semua mata terpana dibuatnya. Gerak gemulai penari serasi dengan nada-nada yang merdu.
--
Santi duduk di back stage dengan perasaan yang campur aduk. Ada perasaan bangga yang ia rasakan, disatu sisi rasa sakit di kepalanya mulai muncul.

“Kau siap?” kata Ka Mira.

“Sangat siap!” Jawab Santi.

Gerak tangan yang halus, tatapan mata yang tajam, senyum diwaktu yang tepat semua berharmonisasi dengan iringan musik yang dimainkan para pemusik. Dandang Tingang menampilkan sosoknya dalam wujud perempuan itu. Sang putri Dandang Tingang menari dengan eloknya.

Ka Mira begitu bahagia melihat penampilan Santi, tak sia-sia ia mengorbankan waktu hingga tenaganya untuk melatih Santi. Semua begitu sempurna dibawakan oleh Santi. Sejak lama memang Ka Mira menyadari bakat anak tersebut.

“Tarian ini begitu hidup. So realistis, so cool kata perempuan bule yang duduk di sebelah Ka Mira. “Very good job.” Sambung bule lelaki yang berada didekatnya, sembari memencet tombol kameranya sambil membidik Santi.

Sorotan cahaya terus mengikuti setiap gerakan Santi. Santi menguasai panggung dengan gemilang. Namun, hal yang tidak terduga terjadi. Tubuh Santi rebah, bagai ditiup angin.

Sontak hal tersebut membuat semua yang menyaksikan terkejut. Kekaguman yang tadi mereka rasakan berubah seketika menjadi kecemasan.

Kak Mira langsung berlari menuju panggung. “Saaaaantiiiiii.”

--

Kini diruangan serba putih itu nampak kembali tat kala Santi membuka matanya. Entah sudah berapa lama dia berada dalam ruangan tersebut.

“Kak Mira!” Seru Santi dengan suara terbata-bata.

“Santi!” Istirahatlah tenangkan tubuhmu, semua aman. Kak Mira lalu meminumkan air putih untuk Santi.

“Bagaimana pertunjukkannya.” Santi sekuat tenaga mengatakan hal tersebut.

“Tenang semua sudah selesai” Kata Ka Mira seraya menaruh gelas ke meja.

Setelah tiga hari berada di rumah sakit dengan segala pernak-perniknya Santi diperbolehkan pulang. Untuk sementara Santi akan tinggal bersama Ka Mira sampai kondisinya membaik.

“Kenapa kamu gk bilang punya penyakit seperti itu?”

“Awalnya saya juga tidak menyangka akan terjadi hal tersebut” Jawab Santi. Santi kemudian teringat dengan penyakit yang pernah disampaikan oleh Dokter Surya beberapa minggu yang lalu.

“Untunglah kau masih berada di tahap-tahap awal, jadi masih tidak terlalu berbahaya, tapi kamu harus tetap meminum obat yang baru diresepkan oleh pihak rumah sakit tadi.”

“Ia Ka..” Jawab Santi pendek.

“Maaf Ka, saya sudah gagal membawakan tarian tersebut.”

“Tidak kamu tidak gagal, kamu sudah membawakannya dengan begitu baik.” Tutur Ka Mira dengan senyum yang mengembang.

Santi hanya diam, lalu membalas senyuman tersebut, namun dalam sanu-barinya terdapat penyelasan yang cukup mendalam, jika ada kesempatan lagi, tentu ia akan berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan yang terbaik.

Hari berlalu dengan begitu cepat selepas peristiwa tersebut. Santi kembali beraktivitas dengan normal menjadi seorang mahasiswi, latihan tari dengan teratur, serta selalu memeriksakan kondisi kesehatan fisiknya. Hingga pada Sabtu pagi yang cerah sebuah sms pendek dari Ka Mira mendarat di layar ponselnya.

Cek E-mail.

Ada apa ka?

Sudah cek saja!

Santi pun membuka aplikasi Gmail yang berada dalam ponsel pintarnya. Sebuah undangan pikirnya. Santi membaca surel tersebut. Sebuah kalimat yang tak pernah diduga sebelumnya, kalimat yang terasa mimpi baginya.

Kami mengundang Anda untuk berpartisipasi dalam acara kami yang bertema “London Culture Festival Art and Music. Kami berharap kesedian Anda untuk dapat berhadir di acara tersebut. London 21 Juli 2018.

Cahaya terang untuk memperbaiki penampilannya sebagai putri Dandang Tingang datang kembali.


  • Share:

You Might Also Like

0 komentar