JAMBU MONYET

By Berbagi Ilmu - Mei 14, 2018


Perempuan tua itu duduk di kursi di teras rumahnya dengan secangkir teh hangat yang mulai dingin. Biasanya ia akan menikmati sore hari berdua dengan suaminya. Mereka akan mengobrol berbagai kisah dan membahas hal apa saja yang sudah mereka lalui serta hal-hal yang belum mereka lalui. Cukup secangkir teh, goreng pisang serta ubi rebus tidak ada yang lebih romantis bagi mereka selain hal tersebut.

Kini tatapannya lurus memandang pohon jambu monyet. Pohon dengan daunan hijau itu tumbuh subur. Di antara pohon itu terdapat beberapa bunga mawar, bunga matahari, dan bunga melati. Semuanya nampak terawat. Begitu juga makam yang tidak jauh dari pohon jambu monyet itu nisannya bertuliskan sebuah nama, Yuda.

Pohon jambu monyet itu ia tanam tak lama setelah suaminya wafat tiga tahun yang lalu. Kepergian suaminya ke alam baka itu begitu mengguncang hati dan perasaannya. Penyakit diabetes yang telah lama diderita suami menjadi penyebab sekaligus takdir yang ia harus ia jalani hari demi hari. Kini umur pohon itu sudah hampir sama dengan kepergian suaminya.

Perempuan itu bernama Sri Husna Ningsih. Namun ia lebih senang di panggil dengan Sri Ningsih. Tujuan Sri menanam pohon itu tidak lain agar ia dapat selalu mengingat dan memutar kembali masa-masa saat bersama suaminya tercinta. Jambu monyet itu menjadi awal mula kisah cinta mereka.

Lelaki itu bernama Yuda, anak kampung sebelah sekaligus kaka kelas Sri Ningsih semasa duduk di kelas tingkat pertama. Para pujangga sering mengatakan tidak ada yang lebih indah dibandingkan cerita cinta pada masa-masa di sekolah. Orang-orang sering menamainya cinta monyet. Entahlah kenapa nama itu disematkan, apakah monyet lebih tahu cinta dibandingkan dengan manusia atau sebaliknya.

“Siapa nama perempuan itu”

“Yang mana”

“Itu yang rambutnya dikuncir kuda”

“Yang memegang buku”

“Bukan, yang tidak memegang apa-apa”

“OH ituu, itu adalah Sri Ningsih, anak Hj. Zakaria juragan kacang mete”

“Kacang mete?”

“Ia”

“Kacang yang seperti apa?”

“Kau tidak tahu kacang mete?”

“Sering-seringlah kau boy ke perpustakaan”

“Hahaha”

“Kau suka dengan dia?” tanya Joko

“Bukan suka, tapi cinta” kata Budi sambil mengolok-olok Yuda

“Boy ajaklah kenalan” Tambah Darma

“Aku tidak ingin kenalan dengan cara kebanyakan lelaki, aku ingin ia mengenalku dengan sesuatu yang berbeda, sesuatu yang tidak akan dilupakannya sampai kapanpun” Yuda menjawab dengan penuh percaya diri.

Bel tanda masuk kelas memecah keempat pemuda itu. Mereka menuju kelas masing-masing. Sebelum terpecah Yuda menyampaikan sebuah misi. Misi itu akan mereka eksesusi secepatnya. Misi itu mereka namakan misi genk monyet mencuri jambu monyet.

Pulang sekolah keempat pemuda itu langsung menuju ketempat Hj. Zakaria, tujuannya adalah mengeksekusi misi yang telah mereka rencanakan. Yuda, Joko, Budi, dan Darma mengambil jambu monyet itu bukan tanpa alasan. Mereka sengaja menggunakan strategi itu agar dapat berkenalan dengan Sri Ningsih.

Berkat strategi itu Yuda bersama teman-temannya disidang langsung oleh ayah Sri Ningsih. Hasil sidang itu membuat Yuda, Budi, Joko dan Darma mendapat gelar baru. "Genk Monyet." Dan secara aklamasi Yuda ditetapkan sebagai ketua genk itu. Sebagai ketua, nama Yuda naik drastis di sekolah, hingga sampai ke telinga Sri Ningsih.

--

Dibawah cahaya matahari pagi, Samsul dan Ibunya berjalan-jalan di sekitar rumah mereka. Dengan baju batik solo dan celana kain serta sepatu kulit hitam, penampilan Samsul begitu rapi. Sementara sang ibu menggunakan daster dengan motif bunga-bunga. Mereka berjalan berdampingan.

Samsul bekerja di sebuah kantor swasta di Surabaya, jabatannya sebagai seorang manager perusahaan membuat ia tidak dapat bertemu ibunya setiap saat. Hal ini membuat ibunya sedih, mengingat Samsul adalah anak semata wayangnya.

“Aku tidak pernah menyesal menyekolahkanmu keluar negeri”

“Aku juga tidak pernah menyesal kau menjadi orang kantoran”

“Aku juga tidak pernah lupa, akan hari itu”

“Hari di mana Ayahmu pergi untuk selamanya”

“Ibu kita sudah berulang kali membahas hal ini, ketika ayah meninggal aku sedang berada di Amerika”

“Aku sangat menyesal tidak dapat berjumpa dengan ayah untuk terakhir kalinya”

 “Apakah kau lupa, dengan cerita Malin Kundang yang selalu aku ceritakan padamu pada saat kau akan tidur”

“Tentu aku sangat ingat cerita itu, sampai-sampai aku begitu ingat akan setiap detailnya” jawab Samsul.

Sri Ningsih membawa anaknya itu duduk di dekat pusara ayahnya. Rumah Husna memang besar jika dibandingkan dengan rumah-rumah lainnya. Rumah berwarna krem dan berpagar kayu itu ia dapatkan dari peninggalan sang suami. Suaminya membeli rumah itu dari seorang pengusaha teh asal Belanda. Dengan tanah dan pekarangan yang besar itu, membuat sebuah makam di dalamnya bukanlah perkara yang sulit. Ia juga sudah menyiapkan liang lahat di sebelah pusara sang suami untuk dirinya kelak.

Sambil menaburkan bunga yang mereka petik sebelumnya di sekitar pekarangan rumah. Sri Ningsih mulai menceritakan bagaimana awal mula ia bertemu dengan Yuda, walaupun cerita itu sudah begitu sering didengar oleh Samsul. setiap menceritakan itu mata Sri Ningsih nampak berkaca-kaca. Samsul begitu paham bagaimana perasaan dan setiap detail cerita ibunya itu.

“Bagaimana kabar Mala istrimu?”

“Alhamdulillah sehat Bu”

“Sekarang ia sedang hamil, baru memasuki beberapa minggu”

Raut wajah Sri Ningsih nampak berubah, ia tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya. Perlahan air mata kesedihan bekas mengingat suaminya berubah menjadi air mata bahagia akan hadirnya sang cucu.

“Besok kau harus bawa ia kesini”

“Tadi aku tidak bilang mau ke sini”

“Jikalau aku bilang tentu ia akan ikut ke sini” jawab Samsul

“Cintailah istrimu, jangan buat ia terluka”

“Iya, Bu”

--

 “Kenapa mas tidak bilang mau ketempat ibu, kalau mas bilang, aku akan memasak sayur lodeh untuk ibu”

“Aku tidak ada rencana sebelumnya, tiba-tiba ada perasaan aneh yang membawa ku ke sana”

“Besok kita pergi ke sana, aku sudah bilang bahwa kau hamil, dan ibu begitu bahagia mengetahui hal itu”

“Besok aku akan bawakan sayur lodeh kesukaan ibu” jawab Mala

“Sudah larut, lebih baik kita tidur” kata Samsul sambil memejamkan mata.

“Mas, sudah dua malam ini aku bermimpi aneh”

“Mimpi apa?”

“Entahlah, aku mengira itu hanya sebuah mimpi, mimpi yang aneh”

“Aneh, bagaimana?”

“Aku bermimpi diberi oleh seorang lelaki tua, sebuah jambu, bukan sembarang jambu, tapi jambu monyet berwarna hitam”

“Berwarna hitam!!”

“Aku tak pernah tahu ada jambu monyet berwarna hitam”
“Aku pun juga tak tahu mas”

“Nanti jika kau bermimpi lagi malam ini, coba tanyakan dari mana lelaki tua itu mendapatkan jambu itu?” jawab Samsul setengah bercanda

--

Mobil BMW hitam itu melaju pelan. Di dalamnya lagu Happy-Pharrell Williams menemani Samsul dan Mala. Sesekali Mala menengok pemandangan dari bilik kaca mobil. Pemandangan yang indah gumamnya. Dari dalam mobil itu pula pemandangan beton-beton dan bangunan bersusun tinggi berubah menjadi hamparan hijau sawah dan pohon-pohon rindang.


“Mas, aku ingat ibu pernah menanam pohon jambu monyet di dekat makam ayah”

“Iya, bukankah ibu sering menceritakan kisah cinta mereka?”

“Malam tadi aku bermimpi lagi, buah jambu monyet itu aku dapatkan, tepat di genggamanku”

“Lantas, di mana sekarang buah itu?”

“Entahlah, ku rasa kita harus menanyakannya pada ibu” jawab Mala.

--

“Kalian berdua tinggallah di sini, rumah ini terlalu besar jika hanya ku tempati berdua dengan mbak Izah”

“Bu, bukannya, kami tidak mau, tapi, bagaimana dengan kehidupan dan pekerjaan kami di Surabaya”

“Suatu saat kami akan tinggal di sini, tapi bukan sekarang bu”

“Kapan saat itu?”

“Umurku sudah lebih setengah abad”

“Apa aku harus menyusul Yuda terlebih dahulu, agar kalian pindah ke sini”

“Ibu, tidak baik berkata seperti itu”

“Piye menurutmu Mala?” tanya Sri Ningsih

Mala nampak terkejut mendengar pertanyaan dari sang Ibu. Sehingga ia tidak punya persiapan untuk memberikan jawaban apapun.

“Dalem Bu, Kulo ......”

Belum selesai Mala menyelesaikan kalimatnya Samsul langsung menyambar.

“Bu, bukankah kita sudah membahas perihal ini berkali-kali”

Nampak ada raut kesedihan dan kekecewaan di wajah Sri Ningsih. Lalu ia mengumpulkan segenap tenaga untuk mengatakan.

“Bukankah kalian kemari ingin mencari buah jambu monyet berwarna hitam?” timpal Sri

Samsul dan Mala saling bertukar pandang mendengar apa yang baru mereka dengar, sebelumnya mereka tidak pernah menyampaikan perihal jambu monyet hitam itu kepada siapapun.

Angin sore itu membawa mereka pada suatu situasi yang tidak pernah mereka duga. Dedaunan dari pohon jambu monyet itu bergoyang-goyang, nampak diantara dedaunan itu buah jambu monyet berwarna hitam tersibak diterpa angin.

--







  • Share:

You Might Also Like

0 komentar