GAME DI DUNIA NYATA

By Berbagi Ilmu - Mei 08, 2018


Saya memang jarang bermain game baik itu di smartphone, komputer, game online, psp, dan perangkat lainnya. Bagi saya bermain game selain menyita waktu juga sangat menguras uang, dan paket internet hehe, kebanyakannya  game tersebut bersifat online.

Game terakhir yang saya mainkan adalah game Clash Of Clans atau COC, itu pun tidak sampai tamat, langsung saya hapus dari smartphone saya. 

Bermain game memang membuat kita bisa melupakan masalah untuk sesaat. Bagi mahasiswa tingkat akhir yang sedang menyelesai skripsi-nya bermain game bisa menjadi pelarian sesaat dari banyaknya revisi yang harus diselesaikan. Atau saat menunggu dosen pembimbing yang tak kunjung datang game adalah teman menunggu yang tepat.

Sampai pada suatu ketika, saya mengunjungi bengkel sepeda motor teman saya semasa SMK. Saya begitu terkejut di bengkel yang notabenenya tempat memperbaiki sepeda motor dipenuhi anak-anak yang asyik memegangi smartphonenya masing-masing, bermodalkan colokan listrik, charge dan internet mereka asyik bermain game.

Mobile Legend. Yups! (Bukan untuk promosi) Game ini sedang digandrungi  berbagai kalangan. Mulai dari pelajar SD, SMP, SMA, Mahasiswa, PNS, Abang-abang, Om-om  turut memainkan game ini.

Teman saya sebagai pemilik bengkel pun turut serta dalam turnamen mobile legend. Ia bercerita penuh semangat tentang game ini. Bahkan ia meyebut biasanya mereka berkumpul hingga larut malam, hanya untuk bermain game. Saya hanya geleng-geleng mendengar penuturan yang begitu jujur ini hehe.

Namun, apakah yang mereka lakukan itu salah, saya tidak berani berasumsi seperti itu, dan tidak berani juga berasumsi apa yang mereka lakukan itu benar, semua kembali pada individu masing-masing.

Selepas pulang dari bengkel itu saya melakukan aktivitas rutin saya, yakni membaca buku. Entah kebetulan atau apa, saya membaca buku dari Prof Rhenald Kasali Strawberry Genereation dan menemukan pembahasan mengenai apa yang barusan saya alami, pembahasan tersebut berkaitan dengan game. Dengan pokok bahasan Mengapa Anak-Anak Kita Lari ke Dunia Game?

Dari hasil bahasan di buku itu dan pengamatan yang tidak sengaja saya temukan, saya menemukan suatu hipotesis. Dan jawaban dari itu semua adalah Apresiasi.

Dalam pembahasannya, Prof Rhenald menggambarkan bahwasanya dalam game para pemainnya diberikan sebuah dunia yang berbeda. Dalam game, semua hal bersifat reward and less punisment. Apapun jenis dan alur game tersebut.

Saat membuka game pertama kali yang terlihat adalah sambutan berupa tulisan hello, welcome, atau ada juga yang menggunakan bahasa Indonesia, selamat datang. Siapa yang tidak senang dengan sambutan hangat ini. Setelah menyelesaikan satu tantangan para pemain game akan mendapatkan reward (penghargaan) level naik, dapat senjata baru, dapat bonus dan berbagai apresiasi lainnya, pertanyaannya sama, siapa yang tidak senang mendapatkan reward dan apresiasi?

Dan bagaimana jika kalah? Mereka sedikit sekali mendapatkan hukuman, tidak ada ungkapan yang merendahkan, tidak ada cacian, tidak ada kata-kata yang bersifat marah, mereka hanya perlu mencoba-mencoba hingga misi game selesai, dan mereka tetap akan mendapatkan reward.

Bandingkan dengan kehidupan nyata yang miskin apresiasi, reward dan pengghargaan. Di dunia nyata saat kita melakukan kesalahan, semuanya menimpali kita dengan berbagai judge and punisment. Jarang sekali ada orang tua, dosen, atau pimpinan yang memberikan reward pada bawahannya.

Ketika seorang suami kembali kerumah, tulisan welcome hanya sebatas di bawah pintu, dan digunakan untuk membersihkan alas kaki. Saat kita selesai melakukan suatu perkerjaan, hampir-hampir tidak ada apresiasi, saat istri dengan letih memasak di rumah,  ada berapa banyak suami yang memuji masakan istrinya, saat mahasiswa menyelesaikan makalah atau tugas kuliah, berapa banyak dosen yang memuji tugas tersebut?

Maka tidak salah begitu banyak kalangan yang berlari ke game dan dunia maya.  Facebook, twitter, Instagram, Youtube semua media sosial tersebut membolehkan setiap orang untuk like, mengomentari, membagikan, walaupun tidak sedikit juga yang mendislikenya atau komentar negatif.

Kembali ke pokok permasalahan kita yakni game. Mampukah kita menjadikan kehidupan nyata yang penuh dan kaya apresiasi layaknya di dunia game? Jawabannya ada pada diri Anda masing-masing. ingin selamanya menjadi gamer di dunia maya atau menjadikan dunia nyata menjadi game yang penuh apresiasi.

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar