AKU MAU BICARA

By Berbagi Ilmu - Mei 06, 2018

“Aku mau bicara”


“Ya sudah bicara aja, kan biasanya bicara”

“Bukan lewat WA”

“Aku maunya kita ketemu”

“Ciee, bawain ketemuan, dalam rangka apa nii”

“Nanti malam jam 7:30 di cafe biasa”

“Serius amat!”

“Di tunggu”

Tidak biasanya Nisa mengirimkan chat singkat seperti itu untuk Joni. Biasanya chating mereka berdua kebanyakan bersifat abstrak. Mereka bisa saja membahas kenapa suhu udara hari ini begitu panas, mengapa tidak ada matahari, mengapa hujan turun disaat yang tidak tepat dan hal random lainnya.

Berbeda dengan chatingan remaja kebanyakan, yang pertanyaan selalu monoton, lagi apa, dimana, dengan siapa, sudah makan, sudah minum, hari ini pakai baju apa, dan hal-hal lainnya, yang mereka anggap itu adalah tanda kepedulian.

Joni dan Nisa berbeda, chatingan mereka berbentuk random. Mungkin hal ini lah yang membuat mereka bisa dekat, namun tidak pacaran.

Di kamar nya Joni lebih memilih mendengarkan radio, dibandingkan mendengarkan lagu melalu JOOX atau iTunes, bukan karena ingin menghemat kouta atau paket internet, tapi Joni lebih senang menggunakan hasil temuan dari Guglielmo Marconi ini. Melalui radio Joni bebas mendengarkan lagu yang bersifat acak, sesuai request dari para penelpon, atau sms yang dikirimkan para  pendengar radio. Sesekali Joni juga sering merequest lagu melalui sms.

Seperti pada saat itu dikamarnya yang berukuran tanggung itu, Joni mendengar lagu Sheila On 7 berjudul Film Favorit di putar di radio. Penyiar radio menyampaikan bahwa ada seseorang ABG yang  tidak ingin disebut namanya merequest lagu tersebut dan dikirimkan untuk pacarnya yang namanya tidak mau disebutkan. Memang aneh, namun itulah yang kadang membuat Joni senang mendengar radio, satu kata unik.

Sesekali Joni ikut menyanyikan lagu Duta dan kawan-kawan tersebut, secara Joni termasuk salah satu dari Sheila Gank.

“Sama seperti di film favoritmu, semua cara akan kucoba, walau peran yang aku mainkan, bukan pemeran utamanya.”
---
Dengan mengenakan baju hem panjang berwarna biru berbahan flanel, celana kain hitam, sepatu kets kodaci  dan sedikit semprotan farfum hugo yang dibeli dengan refill, Joni mengendarai  motor scoppy nya menuju cafe bintang. Tempat yang ia akan bertemu dengan Nisa.

Jarak antara rumah Joni dan cafe bintang tak begitu jauh, sekitar 15 menit, dengan kecepatan sedang Joni sudah sampai di parkiran cafe bintang. Seperti kebanyakan anak muda yang akan bertemu, Joni mengeluarkan Smartphonenya, dan membuka WA. Dan mengetik pesan.

“Aku sudah sampai di tempat ni”

Lalu ia mengirimkan pesan tersebut untuk Nisa.

Sesaat kemudian WA dari Nisa masuk.

“OK”

Joni kemudian masuk ke dalam cafe, memilih tempat duduk. Sesaat kemudian, pelayan cafe datang membawa daptar menu. Tanpa membaca daptar menu Joni memesan sate. Pelayan cafe bingung.

“Maaf mas kita tidak ada jual sate”

Joni hanya terseyum, dalam hati ia berkata, “mau aja gue kerjain.”

“Ya udah mas pesen, Cappucino hangat aja”

“Kalau itu ada mas, tunggu sebentar ya”

“Oke”

Joni memang tidak asing dengan cafe itu, sesekali ia pergi ke cafe itu bersama Nisa. Sesekali pula ia pergi ke situ dengan yang lain.

Joni dan Nisa memang jarang bertemu dan berbicara secara langsung, kebanyakan mereka berkomunikasi melalui WA.  Hubungan Joni dan Nisa bisa dikatakan aneh, bukan pacaran, bukan teman biasa, bukan pula selingkuhan.

Joni adalah pria bebas alias jomblo. Perkenalannya dengan Nisa juga cukup unik. Joni dan Nisa adalah sama-sama mahasiswa di perguruan tinggi. Saat itu ketika Nisa sedang berjalan dengan teman-teman perempuannya, Joni menyapa. Joni menyapa dengan penuh percaya diri.

Secara postur tubuh dan tinggi badan, Nisa mirip dengan Dara teman perempuan Joni, sejak SMA. Dan ternyata Joni salah orang, yang ia sapa ternyata adalah Nisa, sudah kepalang tanggung, Joni pun mengulurkan tangan, tanda perkenalan.

“Joni”

“Nisa”

“Salam kenal”

Joni kemudian tersenyum dan putar balik. Si Nisa dan kawan-kawannya pun bingung dengan tingkah aneh Joni. Dan itulah permulaan awal kisah Joni dan Nisa.

Joni kemudian menceritakan hal tersebut kepada Dara. Dara hanya berkomentar singkat, sejak SMA lo memang aneh Jon. Dan dari Dara pula Joni mendapatkan kontak serta nomor telepon Nisa.

Kini mereka akan bertemu, entah ada hal genting apa yang akan dibicarakan oleh Nisa.

Kalau Nisa mau pinjam duit, alasan gue apa Ya, pikir Joni.

Atau dia mau nagih hutang gue, perasaan gue gak punya hutang deh sama dia. Joni terus berpikir keras.

 Biasanya kalau tidak nongkrong di cafe, Joni dan Nisa pergi ke bioskop. Itupun jikalau Joni ada duit. Ia sering kali beralasan kalau Nisa mengajak ketemuan atau pergi bareng.

Berbagai alasan random Joni keluarkan untuk menolak ajakan tersebut, mulai dari ada janji, banyak tugas kuliah, lagi hujan lebat, ada acara tahlilan, lagi nonton uttaran, lagi nonton YouTube, lagi liat kucing berantem, lagi ada badai salju, gempa bumi, angin puting beliung, kasih makan ayam dan sebagainya dan sebagainya. 

“Ya, udah gpp” demikianlah jawaban Nisa, jika mendengar alasan Joni.

Pelayan cafe pun datang membawakan secangkir cappucino pesanan Joni. Joni pun menyeruput cappucino tersebut.
Sesaat kemudian Nisa datang. Dengan kalimat pembuka yang bersifat umum Nisa memulai pembicaraan.

“Udah lama datang?”

“Baru kok, baru datang cappucinonya, cie ada hal apa ni,” Joni langsung menggoda Nisa.

“Ada sesuatu”

“Syahrini” hahaaa

“Gak lucu”

“Emang”

“Mas” Joni memanggil pelayan cafe.

“Pesan latte satu, art nya kasih gambar angsa aja”

“Ada lagi”

“Kamu mau pesan apa, lagi”

“Itu aja”

“Kata putri ini, itu aja mas”

“Oke  mohon di tunggu”

“Makasih Mas” jawab Joni.

“Kamu masih ingat aja, minuman kesukaan ku, Kata Nisa”

“Ingat dong, kan setiap kita kesini, kamu minta pesankan itu”

“Hehe, iya” jawab Nisa sambil melihat smartphonenya.

“Jon, aku gak bisa lama-lama ni”

“Iya aku juga”,  jawab Joni mantap, sambil menyeruput cappucino nya yang mulai dingin.

“Aku mau nikah!”

“Uhuuuk”, Joni tersedak, entah karena bahagia atau bingung, Joni terdiam sesaat.

“Seriuss!!!”

“Tapi aku belum punya pekerjaan, “jawab Joni

“Kemarin dia kerumah aku dan melamar aku,” Jawab Nisa

“Si Agus”, tebak Joni.

“Iya”

Mereka kemudian terdiam sesaat. Kemudian pelayan datang membawa secangkir latte pesanan Nisa.

Pelayan kemudian menaruh cangkir tersebut ke meja dengan penuh hikmat, saking hikmatnya seperti presiden menaruh sang saka untuk para petugas paskibraka.

“Silahkan” pelayan tersebut mempersilahkan.

“Terimakasih”

Nisa kemudian menyeruput latte bergambar angsa tersebut.

“Selamat ya!!” Joni memecah situasi yang canggung itu.

“Terus kapan acara nikahnya”

“Aku belum jawab lamaran dia” jawab Nisa

“Kenapa?”

“Aku mau tau kejelasan hubungan kita”

“Hubungan kita?” Jawab Joni

“Iya” jawab Nisa dengan malu-malu

“Hubungan kita ya begini”

“Jadi kamu menganggap hubungan kita, Cuma begini” jawab Nisa

“Iya begini”

“Jon, aku serius”

“Iya, serius”

“Ya udah, jawab Nisa”

“Ternyata aku yang terlalu berharap sama kamu Jon”

Joni hanya terdiam.

Terlihat ada air di pelupuk mata Nisa.

“Selamat tinggal Joni”

“Terimakasih untuk semuanya”

Nisa lalu pergi meninggalkan Joni. Sambil setengah berlari.

“Nisa-Nis-Nisaaa”

Joni berteriak memanggil Nisa, sebagian pengunjung nampak acuh menyaksikan adegan tersebut. Mungkin mereka sudah biasa menyaksikan adegan ala sinetron tersebut.

Joni kemudian duduk tanpa mengejar Nisa. Antara bingung dan tidak siap dengan apa yang baru saja terjadi. Semua berlalu begitu cepat bagi Joni. Baru tadi siang dia mendengar radio, malam ini ia duduk termenung dan memikirkan lagu apa yang akan direquest nya di radio besok hari.

Di tengah duduk tersebut, Joni melihat cangkir latte milik Nisa. Nampak latte itu masih banyak, belum sempat di habiskan oleh Nisa. Ia pun mengambil dan menyeruput latte itu.

“Kok rasanya hambar, gak semanis biasanya” komentar Joni.




  • Share:

You Might Also Like

0 komentar